• Convallis consequat

    Lorem ipsum integer tincidunt quisque tristique sollicitudin eros sapien, ultrices primis volutpat tempor curabitur duis mattis dapibus, felis amet faucibus...

  • Augue nullam mauris

    Lorem ipsum integer tincidunt quisque tristique sollicitudin eros sapien, ultrices primis volutpat tempor curabitur duis mattis dapibus, felis amet faucibus...

  • Donec conubia volutpat

    Lorem ipsum integer tincidunt quisque tristique sollicitudin eros sapien, ultrices primis volutpat tempor curabitur duis mattis dapibus, felis amet faucibus...

  • Primis volutpat tempor

    Lorem ipsum integer tincidunt quisque tristique sollicitudin eros sapien, ultrices primis volutpat tempor curabitur duis mattis dapibus, felis amet faucibus...

Showing posts with label Info. Show all posts

Doktor Indonesia Menangi Kompetisi Teknologi Pertahanan di Inggris

[ Selasa, 26 Agustus 2008 ]
Doktor asal Jombang Menangi Kompetisi Teknologi Pertahanan di Inggris

Sang Robot Bisa Bedakan yang Sipil dan Militer

Hampir bersamaan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, Dr Subchan, peneliti asal Indonesia, berhasil meraih prestasi bergengsi di Inggris. Bahkan, Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya.

NURANI SUSILO, London

SIAPA sangka dari Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa, Dr Subchan, kini menjadi pembicaran di Inggris. Peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge.

MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Subchan, pria yang lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, itu bersama Team Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).

Saturn adalah semacam robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Ini adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.

Tim Stellar adalah gabungan antara Cranfield University, Stellar Service Ltd, Blue Bear System Ltd, SELEX Sensors, dan Airborne System Ltd, TRW Conekt, dan Marshall Specialist Vehicles.

''Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa berisiko terlihat atau diketahui lawan,'' jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994 itu kepada Jawa Pos kemarin.

Karena berbagai kelebihan itu, Subchan dan Team Stellar dinyatakan unggul dibandingkan peserta lomba yang lain. Andy Wallace, perwira militer dari Departemen Pertahanan Inggris, mengakui ingin mendapatkan produk teknologi yang membuat misi prajurit di medan tempur semakin aman. ''Kami ingin tentara yang bertugas di lapangan makin aman dan keselamatan mereka terlindungi,'' kata Wallace kepada stasiun televisi BBC.

Dalam konteks perang modern, lanjut Wallace, produk teknologi seperti yang dikembangkan Subcham dan timnya memang sangat relevan. Medan yang asing dan sulit, membutuhkan piranti yang bisa sangat membantu prajurit tempur.

Robot yang dikembangkan Team Stellar ini terdiri atas dua pesawat kecil dan satu kendaraan darat. Semuanya tanpa awak. Wahana ini dilengkapi dengan sensor radar, panas, dan visual. Untuk menyelaraskan kerja ketiga robot ini, sekaligus menganalisis hasil yang didapat, dibuat semacam pusat mengendali terpadu.

Kepada Jawa Pos Subchan memaparkan, tiga komponen robot yang dikembangkan Team Stellar itu punya fungsi sendiri-sendiri yang saling menunjang. Pertama, pesawat tanpa awak yang terbang tinggi. Alat ini berfungsi memetakan wilayah dan mengetahui medan. Pesawat ini bisa mendeteksi kendaraan militer; tank, bahkan sniper (penembak jitu) lawan.

Namun, untuk bom pesawat, alat ini tidak bisa mendeteksi secara akurat. Itulah sebabnya dibuat robot kedua dan ketiga berupa pesawat tanpa awak yang terbang rendah dan satu robot darat (ground vehicle). Kedua robot terakhir ini lebih berfungsi untuk mengecek atau melakukan verifikasi terhadap temuan pesawat pertama yang terbang tinggi .

Subchan, yang menempuh master bidang applied matematics (S2) di Delft University of Technology di Belanda pada 1998-2000 ini terlibat di bagian desain dan pengembangaan kendaraan udara dan darat tanpa awak. ''Ini memang pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak,'' kata pria kelahiran Jombang Mei 1971 itu.

Dia menceritakan, proyek robot militer ini dimulai sekitar pertengahan 2007. Selama kurang lebih setahun, Team Stellar yang menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan dan Cranfield University itu mengembangkan dan menguji coba Saturn di lapangan. Uji coba dilakukan di beberapa tempat di Inggris.

"Proyek ini membuat saya sering ke lapangan dan menghabiskan waktu di alam terbuka. Kadang selama berhari-hari menyempurnakan Saturn,'' kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdul Muin dan Djamilah ini.

Dalam enam bulan terakhir, hampir tiap minggu Subchan dan timnya ke lapangan menguji Saturn. Waktu yang terbatas memang menjadi salah satu kendala pengembangan Saturn. Bahkan, sampai babak final pun, masih ada beberapa masalah yang mengganjal.

''Pada proofing event (pembuktian produk) yang berlangsung selama lima hari, kami sempat khawatir karena sampai hari ketiga komunikasi antara stasiun pengendali di darat dan robot kendaraan tidak begitu bagus,'' bpak lima orang anak itu. Untunglah pada hari keempat, persoalan bisa diatasi.

Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dilakukan setiap tim adalah dalam waktu satu jam harus mendemonstasikan hasil temuannya di Village of Copehill Down, di Salisbury Plain, Wiltshire, Inggris. Yakni, sebuah perkampungan yang khusus dibuat untuk latihan militer. Kondisi perkampungan itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan medan peperangan, lengkap dengan snipers, bom, tank, peluncur roket, hingga aktor yang berperan sebagai tentara lawan dan penduduk sipil.

Dalam tantangan seperti itu, robot peserta MoD Grand Challenge harus bisa membedakan mana yang ancaman dan mana warga sipil biasa.

''Saya sangat bersyukur bisa menang,'' kata suami Ima Imadatul yang pernah empat tahun bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebelum menjadi dosen ITS.

Subchan layak berbangga karena dari 11 tim yang mengikuti lomba ini hanya enam yang masuk babak final. Dan dari enam ini, Team Stellar menang dan berhak atas penghargaan begengsi RJ Mitchell Trophy. Tropi yang mengambil nama perancang pesawat Spitfire Fighter, pesawat tempur legendaris pada pertempuran Battle of Britain.

Penelitian pertahanan dan keselamatan sipil memang bukan dunia yang asing bagi Subchan. Cranfield University, tempat Subchan sekarang bekerja sebagai peneliti, memang memiliki studi pertahanan. Di sinilah dulu ia menyelesaikan S3 di bidang Guidance and Control (panduan dan kendali). ''Berbagai proyek yang saya ikuti hampir semuanya memiliki kaitan dengan pertahanan,'' kata Subchan .

Setelah lulus doktor, Subchan meneruskan post doctoral pada Departement Informatics and Sensors pada universitas yang sama dengan bidang yang ditekuninya sekarang: decision making, data fusion, mission planning and control (bidang pengambilan keputusan, penggabungan data, dan perencenaan misi).

Ia mengaku tidak pernah membayangkan dan berencana menjadi peneliti militer. Tapi kuliah S3 di Cranfield University membuatnya menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer. Ia pernah meneliti 'awan yang tercemar nuklir'. Bila semisal ada kebocoran di reaktor nuklir, Subchan membantu menentukan luas wilayah yang tercemar bahan berbahaya. Dari sini bisa ditentunkan warga di wilayah mana yang harus diungsikan karena kebocoran nuklir tersebut.

''Inilah yang membuat saya senang dan menikmati bidang saya. Ada hasil nyata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia,'' kata Subchan yang juga sering menjadi pembicara pada forum pengajian di Swindon dan London.

Untuk masa depan Saturn yang ia kembangkan bersama Team Stellar, ia belum tahu persis kapan selesai dan dipakai oleh kalangan militer. Yang jelas, teknologi yang dipakai sangat kompleks dan membutuhkan dana yang besar. ''Kalau dananya tersedia mungkin Saturn bisa hadir lebih cepat,'' katanya. (el)

Url: http://www.jawapos.co.id/

Ranking Perguruan Tinggi Sarjana & Pasca-Sarjana di Amerika

Info yang menarik, rekan Condro!

Sedikit tambahan dari Franklin:

1) ranking yang tinggi tidak langsung menjamin semua program yang
ditawarkan pada kampus tersebut juga terbaik. Lebih baik lagi jika
para rekan langsung menghubungi jurusan dan profesor yang
bertanggung-jawab terhadap grup riset di kampus tersebut. Juga dengan
mempelajari output dari departemen-departemen di kampus tersebut.

2) ranking yang ditunjukkan rekan Condro ini bisa disebut ranking
"semu" karena sangat menekankan kualitas "undergraduate" study...
alias program S-1 kalau di Indonesia. Bagi yang ingin masuk program
S-2/S-3, pertimbangkanlah mutu "grad school" dari kampus-kampus
tersebut secara terpisah; rankingnya seringkali berbeda dengan ranking
"colleges". Selain itu, "grad school" biasanya diranking berdasarkan
spesialisasi departmen... tidak seperti ranking "colleges" yang masih
sangat general.

OK? Bagi yang masih bingung, coba bandingkan beda ranking dari
"college" dan "grad school" dari situs yang sama. Ini saya beri
beberapa contoh:

a) Best Colleges:
http://colleges.usnews.rankingsandreviews.com/college/national-search

b) Best Physics Grad Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/phy/search

c) Best Law Grad Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/law/search

d) Best Psychology Graduate Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/psy/search

e) Best Fine Arts Graduate Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/art/search

salam,
Franklin

RESPONS

Saya setuju dengan pendapat mas Franklin. Kebetulan saya sendiri
pernah merasakan kuliah di 2 universitas yang masuk ke dalam daftar
ranking 100 besar dunia tersebut. Saya tak perlu sebutkan nama
universitasnya secara spesifik, yang jelas keduanya berasal dari
negara maju yang berbeda.

Setelah mengalami sendiri proses perkuliahan dan penelitian di kedua
univ tersebut saya bisa merasakan perbedaan kualitas yang sangat jauh
antara keduanya. Namun ironisnya dalam sistem pemeringkatan tersebut,
universitas yg menurut saya (tentu saja berdasarkan pengalaman
empirik) kualitasnya bagus malah mendapat peringkat jauh di bawah
universitas yang kualitasnya, sekali lagi menurut pengalaman saya,
kurang bagus (jelek, if you like).

Jadi semua ini tergantung dari program apa yang kita pelajari. Sistem
pemeringkatan univ biasanya dilakukan secara rata2 keseluruhan
program/dept yang dipunyai univ tersebut.

Perguruan Tinggi Kelas Dunia Tanpa Bahasa Inggris

Capai Perguruan Tinggi Kelas Dunia Tanpa Bahasa Inggris



Jakarta- Rektor Universitas Terbuka (UT) Atwi Suparman mengatakan sudah waktunya perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan kualitasnya untuk menuju perguruan tinggi kelas dunia (World Class University).
Menurutnya, untuk menjadi perguruan tinggi tingkat dunia, tidak harus perguruan tinggi tersebut menggunakan bahasa pengantar Bahas Inggris. " Untuk jadi universitas tingkat dunia, tidak harus menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau mengunakan program-program pembelajaran dari luar negeri. Menggunakan Bahasa Indonesia juga bisa menjadi universitas kelas dunia. Jadi jangan disalahartikan," ujar Atwi usai mewisuda 3.511 lulusan diploma, sarjana dan pascasarjana, di Jakarta, Selasa (1/4).
Dia menambahkan, dengan adanya World Class University yang dimiliki oleh perguruan tinggi di Indonesia, maka masyarakat tidak perlu repot-repot menyekolahkan anaknya ke luar negeri.
UT sendiri, lanjut Atwi, tengah bersiap diri menuju World Class University dengan cara berbenah diri dalam memberikan layanan pendidikan jarak jauh (PJJ) yang kini semakin diminati masyarakat. Pasalnya, era persaingan bebas menginginkan kualitas lulusan yang bisa diandalkan dalam berbagai bidang.
"Mahasiswa saat ini semakin kritis. Mereka semakin menekankan pentingnya jaminan kualitas dalam setiap proses belajar mengajar yang baik. Karena itu UT kini terus berbenah diri dalam menyediakan sarana belajar yang berstandar internasional agar pada 2020 bisa menjadi Perguruan Tinggi Jarak Jauh Terbaik (PTJJ) di Asia " lanjutnya.
"Karena itu, secara nasional UT tetap mengaku pada akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN)," jelas Atwi.(stevani elisabeth)

PERILAKU BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

PERILAKU BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Oleh : Suwarjono



25 Nov 2004

Artikel ini telah dimuat di Jurnal Akuntansi & Manajemen edisi Maret 1991. Artikel ini dimuat kembali di halaman elektronik ini dan di organisasi sebagai berikut:



Pengantar

Dalam beberapa seminar dan lokakarya pengajaran akuntansi di berbagai perguruan tinggi, penulis selalu menyampaikan gagasan tentang pola pengajaran, proses belajar-mengajar dan aspek kependidikan yang lain. Seminar dan lokakarya mengenai pola pengajaran alternatif dalam rangka memahamkan pengetahuan akuntansi telah disampaikan penulis antara lain di Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta, STIE Malangkuceswara Malang, STIE Bandung, Fakultas Ekonomi Unibraw Malang, Fakultas Ekonomi Undip Semarang, Universitas Tridinanti Palembang dan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.

Peserta semua seminar dan lokakarya tersebut adalah pengelola dan staf pengajar perguruan tinggi karena kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan pengajaran di perguruan tinggi. Sebenarnya, bukan hanya dosen yang harus berusaha untuk memperoleh persepsi dan pemahaman makna belajar yang semestinya tetapi yang lebih penting adalah mahasiswa sebagai subjek belajar juga harus mempunyai persepsi dan pemahaman yang sama. Dengan artikel ini, penulis ingin berbagi gagasan, khususnya dengan mahasiswa, mengenai beberapa aspek belajar yang disampaikan penulis dalam seminar atau lokakarya tersebut dengan harapan bahwa mahasiswa memperoleh gambaran yang semestinya tentang belajar di perguruan tinggi. Artikel ini dapat dipandang sebagai surat terbuka kepada mahasiswa untuk mengevaluasi diri perilaku belajarnya selama ini.



Perguruan Tinggi Sebagai Pilihan Strategik

Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut. Kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi dapat menyebabkan proses belajar bersifat disfungsional.

Belajar merupakan hak setiap orang. Akan tetapi, kegiatan belajar di suatu perguruan tinggi merupakan suatu privilege karena hanya orang yang memenuhi syarat saja yang berhak belajar di lembaga pendidikan tersebut. Privilege yang melekat pada mereka yang belajar di suatu perguruan tinggi tidak hanya terletak pada sarana fisik dan sumberdaya manusia yang disediakan tetapi juga pada pengakuan secara formal bahwa seseorang telah menjalani kegiatan belajar dan pelatihan tertentu. Dengan pengakuan tersebut, harapannya adalah bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar secara formal akan mempunyai wawasan, pengetahuan, keterampilan, kepribadian dan perilaku tertentu sesuai dengan apa yang ingin dituju oleh lembaga pendidikan. Tujuan lembaga pendidikan pada umumnya dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional. Yang perlu dicatat adalah bahwa belajar merupakan kegiatan individual, kegiatan yang sengaja dipilih secara sadar karena seseorang mempunyai tujuan individual tertentu. Belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan di antara berbagai alternatif strategik untuk mencapai tujuan individual. Kesadaran mengenai hal ini akan sangat menentukan sikap dan pandangan belajar di perguruan tinggi yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang belajar di perguruan tinggi.

Karena seseorang mendapat privilege belajar di perguruan tinggi, seseorang dituntut untuk berbuat atau bertindak lebih dari mereka yang tidak mendapatkan privilege tersebut. Mereka yang belajar di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempunyai keterampilan teknis tetapi juga mempunyai daya dan kerangka pikir serta sikap mental dan kepribadian tertentu sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dalam menghadapi masalah-masalah dalam dunia nyata (masyarakat). Kalau mereka yang mempunyai privilege akhirnya berbuat atau bertindak (termasuk cara belajarnya) seperti mereka yang tidak belajar melalui lembaga formal maka mereka yang berstatus mahasiswa sebenarnya tidak berbeda dengan mereka yang belajar tidak melalui lembaga pendidikan formal kecuali bahwa mereka yang belajar di perguruan tinggi mempunyai kartu mahasiswa dan dengan demikian dianggap statusnya lebih tinggi.

Bila belajar di perguruan tinggi tidak dapat mengubah wawasan dan perilaku akademik atau sosial, pada saat mahasiswa lulus dari perguruan tinggi barangkali mereka hanya bertambah keterampilan dan atributnya (misalnya gelar) tetapi mereka sebenarnya tidak berbeda dengan mereka yang memperoleh ketrampilan yang sama tanpa melalui pendidikan formal. Bila keadaan ini terjadi, perguruan tinggi akan menjadi sekadar tempat antre untuk memperoleh tiket masuk ke arena belajar yang sesungguhnya yaitu praktik di dunia nyata. Akibatnya, kontribusi pendidikan tinggi dalam mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik dan maju akan menjadi kecil walaupun mungkin tujuan individual mahasiswa yang sempit dan jangka pendek tercapai.



Aspek Belajar

Apapun tujuan yang ingin dicapai melalui belajar di perguruan tinggi, akhirnya tujuan tersebut harus dicapai dalam bentuk unit kegiatan belajar-mengajar yang disebut kuliah. Kuliah merupakan bentuk interaksi antara dosen, mahasiswa dan pengetahuan/ketrampilan. Pemahaman dan persepsi mengenai hubungan ketiga faktor tersebut sangat menentukan keberhasilan proses belajar. Kuliah merupakan kegiatan yang membedakan pendidikan formal dan nonformal. Namun hal yang perlu dicatat adalah bahwa kuliah bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan satu-satunya kegiatan belajar.

Beberapa aspek yang berkaitan dengan kegiatan konkret belajar sebagaimana dirinci pada halaman judul dibahas berikut ini. Pemahaman terhadap aspek ini akan mempengaruhi sikap dan semangat mahasiswa dalam menjalani proses belajar.



Makna Kuliah

Arti kuliah pada umumnya diperoleh mahasiswa bukan karena kesadarannya tentang arti kuliah yang sebenarnya tetapi karena pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kuliah. Kesan yang keliru akan mengakibatkan adanya kesenjangan persepsi tujuan antara lembaga pendidikan, dosen dan mahasiswa sehingga proses belajar-mengajar yang efektif menjadi terhambat. Gambar 1a di halaman berikut melukiskan persepsi kuliah yang kebanyakan berlaku menurut pengamatan penulis. Kuliah dan dosen dianggap merupakan sumber pengetahuan utama (dan bahkan satu-satunya) sehingga catatan kuliah merupakan jimat yang ampuh dan dosen merupakan dewa pengetahuan (tapi hanya karena menyembunyikan pengetahuan tersebut). Lingkungan belajar seperti itu menempatkan dosen menjadi seperti tukang sulap yang kelihatan pintar tetapi hanya karena mengetahui muslihat-muslihat (tricks) yang sengaja disembunyikannya dan kemudian menjual pengetahuan tersebut melalui loket kuliah. Mahasiswa memperoleh pengetahuan sedikit demi sedikit dari tangan dosen seperti membeli kue dari sebuah warung.



Kekeliruan persepsi ini bukan semata-mata kesalahan mahasiswa karena persepsi tersebut dapat timbul justru dari sikap dosen yang secara tidak sadar telah menciptakan kondisi demikian. Akibatnya, mahasiswa kebanyakan mempunyai perilaku untuk hanya datang, duduk, dengar dan catat (D3C). Catatan kuliah dianggap sumber pengetahuan dan bahkan kalau perlu mahasiswa tidak usah datang ke kuliah tetapi memfotokopi saja catatan mahasiswa yang lain. Karena pendekatan pengendalian proses belajarmengajar di kelas yang kurang mendukung, banyak mahasiswa yang lebih merasa nyaman menjadi "mesin dengarkopi".

Kalau tujuan individual akan dicapai secara efektif, arti kuliah harus diredefinisi dan arti kuliah yang telah diredefinisi harus dilaksanakan secara konsekuen. Gambar 1b merupakan redefinisi arti kuliah dan proses belajar. Dengan konsep ini, pengetahuan dan keterampilan merupakan barang bebas (walaupun diperlukan biaya untuk memperolehnya). Mahasiswa dan dosen mempunyai kedudukan yang sama dalam akses terhadap pengetahuan. Dosen berbeda dengan mahasiswa karena wawasan dan pengalaman-pengalaman berharga yang dimilikinya yang berkaitan dengan pengetahuan tersebut. Wawasan dan pengalaman dosen diperoleh karena mereka telah mengalami proses belajar dan karena pergaulannya dengan para praktisi atau karena riset atau penelitian yang dilaksanakannya. Dengan demikian, kuliah harus diartikan sebagai forum untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa terhadap pengetahuan yang bebas tersebut.

Fakta yang tidak dapat dihindari adalah bahwa waktu kuliah (temu-kelas) adalah sangat pendek dan terbatas. Di lain pihak, cakupan materi dan kedalaman pemahaman tidak dapat diberikan secara seketika dalam waktu yang pendek tersebut. Masalahnya adalah apakah yang harus dikerjakan dalam waktu yang sangat pendek dan terbatas tersebut. Kalau kuliah diisi dengan kegiatan yang sebenarnya mahasiswa dapat melakukan sendiri di luar jam temu kelas maka kelas tersebut sama sekali tidak mempunyai nilai tambah. Di dalam kelas tersebut tidak terjadi proses belajar yang sesungguhnya; yang sesungguhnya terjadi adalah pengalihan catatan dosen ke catatan kuliah mahasiswa melalui proses dengarkopi (proses yang jauh lebih primitif dibandingkan dengan fotokopi). Keefektifan temu kelas dalam menunjang proses belajar sangat bergantung pada pemahaman dan konsepsi dosen dan mahasiswa terhadap arti temu kelas. Kesenjangan pengertian dapat menimbulkan frustrasi di kedua belah pihak.



Fungsi Temu Kelas

Proses belajar merupakan kegiatan yang terencana dan kuliah merupakan kegiatan untuk memperkuat (to reinforce) pemahaman mahasiswa terhadap materi pengetahuan sebagai hasil kegiatan belajar mandiri. Gambar 2 menunjukkan fungsi temu kelas sebagai medium penguatan pemahaman dan bukan sebagai sumber pengetahuan. Bila pada awal temu kelas mahasiswa telah menyiapkan diri sebelumnya maka mahasiswa telah mempunyai pengetahuan awal yang cukup memadai. Dengan demikian fungsi kelas akan menjadi sarana untuk lebih memahami apa yang sebelumnya meragukan. Dengan penjelasan seperlunya dari instruktur, mahasiswa akan dengan segera dan mudah menangkap apa yang dijelaskan atau yang didiskusi di kelas. Tingkat pemahaman akan meningkat dengan cukup pesat karena penjelasan instruktur fungsinya hanyalah untuk memperkuat apa yang sudah dipahami mahasiswa.

Bila mahasiswa tidak menyiapkan diri dan masuk kelas dalam keadaan kosong pikirannya maka pemahaman akan menjadi terhambat atau bahkan tidak ada proses pemahaman sama sekali karena instruktur tidak lagi menjelaskan segala masalah secara rinci dan runtut. Kalau dibandingkan dengan grafik biru, grafik merah meningkat tidak begitu tajam. Setelah temu kelas selesai, tentu saja pemahaman akan menjadi berkurang karena berlalunya waktu. Akan tetapi, penurunan pemahaman pada mahasiswa yang sebelumnya telah belajar tidak akan securam penurunan pemahaman mahasiswa yang tidak belajar sama sekali. Hal ini disebabkan mahasiswa belajar lagi untuk pemahaman topik berikutnya sementara itu topik yang sebelumnya dipelajari ikut menjadi lebih diperkuat lagi oleh materi berikut yang mengacu pada materi sebelumnya. Mahasiswa yang masuk kelas dengan pikiran kosong akan memperoleh pemahaman yang rendah dan samar-samar dan begitu keluar dari kelas pemahaman yang sedikit dan samar-samar tersebut akan segera hilang. Topik berikutnya, yang memerlukan pemahaman topik sebelumnya, akan menjadi lebih sulit untuk dipahaminya dan akhirnya mahasiswa cenderung untuk menghafal saja topik tanpa penalaran dan pemahaman.

Kesepakatan (commitment) antara dosen dan mahasiswa dalam bentuk rencana/program belajar dan silabus merupakan keharusan dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya kesepakatan tersebut sebenarnya tersirat bahwa dosen dan mahasiswa harus memegang buku materi dan acuan yang sama (paling tidak ada buku dan acuan lain yang selalu harus dibawa dan digunakan bersama di kelas). Dengan demikian, kuliah atau temu kelas akan diartikan sebagai ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman (to share the knowledge and experiences) antara dosen dan mahasiswa. Paling tidak temu kelas harus merupakan ajang konfirmasi pemahaman mahasiswa terhadap materi pengajaran yang sudah jelas sumbernya dengan pemahaman dan pengalaman dosen terhadap materi yang sama. Dalam hal inilah lembaga pendidikan perguruan tinggi harus dipandang berbeda dengan lembaga kursus atau pendidikan keterampilan lainnya. Dalam hal ini pulalah education harus dibedakan dengan training. Di samping menuntut aspek keterampilan teknis, education lebih menitikberatkan pada aspek pengembangan kepribadian, visi dan daya/kerangka pikir.



Pengalaman Belajar atau Nilai

Nilai yang diperoleh peserta didik mempunyai fungsi ganda, sebagai ukuran keberhasilan peserta didik dalam mempelajari mata kuliah dan sekaligus sebagai alat evaluasi keberhasilan mata kuliah itu sendiri. Dalam kenyataannya, fungsi yang kedua sering diabaikan sama sekali walaupun makna fungsi yang pertama sebenarnya sangat tergantung kemampuan nilai untuk merefleksi apakah peserta telah menjalani proses belajar yang semestinya. Dalam hal tertentu, nilai yang diperoleh mahasiswa memang merupakan indikator kesuksesan mahasiswa dalam menempuh kuliah tetapi mungkin bukan merupakan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan atau sasaran pengajaran mata kuliah dalam mengubah pengetahuan, perilaku atau kepribadian mahasiswa termasuk penalarannya. Dalam hal inilah nilai ujian sebagai ukuran keberhasilan harus dipertimbangkan validitasnya. Bagi mahasiswa yang mempunyai tujuan individual yang jelas, tentunya nilai bukan merupakan tujuan tetapi lebih merupakan suatu konsekuensi logis dari apa yang dilakukannya selama mengikuti proses belajar. Oleh karena itu, pertanyaan yang sangat fundamental bagi mahasiswa sejati adalah apakah mereka belajar untuk nilai atau belajar untuk tahu. Hubungan antara nilai dan proses belajar dapat ditunjukkan dalam skema pada Gambar 3.







Masalah pengendalian belajar yang perlu dipikirkan adalah manakah yang dianggap lebih penting dalam proses belajar: proses belajarnya atau nilainya. Keputusan mengenai hal ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku dosen dan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar. Bila penyelenggaraan kuliah memungkinkan seorang mahasiswa dapat memperoleh nilai tinggi tanpa mahasiswa tersebut mengalami atau menjalani proses belajar yang semestinya maka mata kuliah dan proses belajarnya sebenarnya belum mengajarkan apaapa kepada mahasiswa.

Bila proses belajar dianggap hal yang penting daripada sekadar nilai ujian (dan inilah sebenarnya jasa yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan kepada masyarakat) maka pengendalian proses belajar harus menjadi perhatian utama. Kesepakatan mengenai bagaimana proses belajar-mengajar akan dilaksanakan perlu disampaikan kepada mahasiswa. Persepsi mahasiswa yang keliru mengenai hal ini akan menyebabkan mahasiswa merasa frustrasi menjalankan proses belajar.



Konsepsi Tentang Dosen

Telah disebutkan bahwa dalam proses belajar mengajar yang semestinya, dosen bukan merupakan sumber pengetahuan utama bahkan hanya satu-satunya sumber. Dalam proses belajar mengajar yang efektif, dosen semestinya harus dipandang sebagai seorang manajer kelas. Sumber pengetahuan utama adalah buku, perpustakaan, artikel dalam majalah, hasil penelitian, dan media cetak atau audio-visual lainnya (termasuk pengalaman dosen tentunya). Sekali lagi, dosen mendapat tugas untuk memegang suatu kelas karena yang bersangkutan telah mengalami proses belajar tertentu dan telah memperoleh pengalamanpengalaman berharga (termasuk pengalaman praktik dan penelitian) yang mungkin perlu disampaikan kepada mereka yang akan menjalani proses belajar yang sama. Dengan demikian mahasiswa yang akan menjalani dan mengalami proses yang sama akan memperoleh pengetahuan yang sama (atau bahkan diharapkan lebih) dengan cara yang lebih efektif dan tidak perlu membuat kesalahan yang sama.

Jadi, dosen harus dipandang sebagai manajer kelas dan merupakan nara sumber (resource person) proses belajar. Dalam teknologi pendidikan, dikatakan bahwa dosen bertindak sebagai director, facilitator, motivator, dan evaluator proses belajar. Gambar 1b juga melukiskan peran dosen sebagai manajer kelas dan nara sumber mata kuliah. Dosen menetapkan sumber pengetahuan apa saja yang harus dipelajari secara mandiri oleh mahasiswa dalam bentuk silabus atau program belajar, mahasiswa menjalani program belajar tersebut dan dosen mengendalikan proses belajar mahasiswa.



Kemandirian dalam Belajar

Telah disebutkan di atas bahwa belajar sebenarnya merupakan kegiatan individual dan berlanjutan. Di mata mahasiswa, proses belajar mengajar yang sekarang berjalan pada umumnya belum dipandang sebagai proses belajar mandiri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketidakmampuan mahasiswa dalam mengungkapkan gagasan dan menemukan suatu gagasan atau masalah untuk bahan penulisan skripsi atau tulisan lainnya. Hal ini mungkin disebabkan proses belajar di kelas sampai tingkat akhir terlalu banyak ditekankan pada aspek doing tetapi kurang penekanan pada aspek thinking/reasoning. Apa yang diajarkan di kelas lebih banyak berkaitan dengan masalah diketahui-hitung-hitungan atau berkaitan dengan bagaimana mengerjakan sesuatu tetapi bukan mengapa demikian dan apa implikasinya.

Dalam banyak hal, dosen bahkan cenderung mengisolasi (tidak memberitahu) hasil penelitian atau gagasan-gagasan alternatif yang berbeda (apalagi yang kontroversial) dengan apa yang diajarkan atau dipraktikkan (berlaku) dengan dalih agar mahasiswa tidak bingung dalam praktik tetapi sementara itu dosen menuntut mahasiswa agar berpikir kreatif dan inovatif (dan suka bertanya). Dalam kondisi yang kontradiktif yang mengarah ke isolasi ini (analogi dengan pemasangan kaca mata kuda), mahasiswa akan cenderung untuk mengoptimalkan dirinya dengan menerima saja apa yang diajarkan. Akibatnya fiksasi fungsional tertanam dalam diri mahasiswa yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap resistensi yang tinggi terhadap perubahan.

Kemandirian belajar sering juga menjadi terhambat karena aspek berpikir dan bernalar banyak diambil alih oleh dosen, baik pada tahun pertama maupun tahun-tahun berikutnya sampai tingkat akhir. Banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan kegiatan mandiri (baik thinking maupun doing) diambil alih oleh instruktur/dosen. Ibarat memakan buah apel, dosen mengunyahkan buah tersebut sampai siap ditelan dan mahasiswa tinggal menelannya. Proses semacam ini sebenarnya merupakan proses pembebalan dan bukan proses penajaman pikiran. Keadaan ini dilukiskan dalam Gambar 4a dibandingkan dengan keadaan ideal pada Gambar 4b.

Dalam Gambar 4a, mahasiswa yang sudah terbiasa menelan pengetahuan yang telah dikunyahkan dosen tanpa masalah dan kontroversi (kebetulan dosen juga senang demikian) tiba-tiba pada tahun terakhir (akhir tahun keempat) mahasiswa harus mengunyah sendiri pengetahuan dan mengajukan masalah untuk karya tulisnya. Jelas dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Mahasiswa tidak mampu mengidentifikasi masalah yang menjadi perhatiannya yang pantas untuk diangkat menjadi judul skripsi. Akhirnya mahasiswa mempunyai kesan yang keliru bahwa yang namanya masalah untuk penulisan skripsi adalah suatu bab dalam sebuah buku teks yang tidak dikuasai dengan baik dan belum dipelajari dengan semestinya semasa kuliah. Masalah dalam skripsi adalah masalah dirinya dalam mempelajari topik dan bukan masalah umum. Akibatnya, banyak judul dan isi skripsi yang sama dengan judul dan isi sebuah bab dalam buku teks tetapi dikemas dalam format skripsi. Dengan demikian, skripsi tidak lebih dari sebuah medium untuk belajar suatu bab dalam buku teks yang kalau mahasiswa telah mempelajari bab tersebut dengan baik, mestinya mahasiswa merasa tidak perlu menulis bab tersebut dalam bentuk skripsi. Bukan berarti hal tersebut merupakan sesuatu yang jelek. Kalau memang hal itu yang menjadi tujuan penulisan skripsi, memang itulah yang dapat dicapai.





Kalau proses belajar pada Gambar 4a menjadi pola dan berjalan terus, kemandirian hanya akan menjadi slogan saja dan tidak akan pernah terwujud dalam sikap dan perilaku mahasiswa. Sayangnya, hal seperti ini justru yang sering menjadi harapan atau yang disukai mahasiswa. Dalam angket evaluasi dosen, dosen yang skornya tinggi kadang-kadang justru dosen yang dapat menyampaikan materi secara sistematis dan dapat menghasilkan catatan yang rapi bagi mahasiswa walaupun catatan tersebut akhirnya sama dengan apa yang terdapat dalam buku yang tidak pernah dibaca mahasiswa. Seandainya mahasiswa telah membaca dan memahami (walaupun tidak secara penuh) materi yang dijelaskan secara runtut dan rinci tersebut mungkin mahasiswa akan berpikir bahwa yang dibahas di kelas tidak menambah pengetahuannya sehingga mahasiswa dapat menuntut lebih banyak dari dosen. Hal ini akan mendorong dosen untuk selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Dengan demikian pengetahuan juga akan menjadi berkembang dan lembaga pendidikan tinggi tidak sekedar berfungsi untuk menyebarkan pengetahuan tetapi juga mengembangkan pengetahuan. Hal ini pulalah yang membedakan perguruan tinggi dengan kursus.

Kemandirian belajar adalah hasil suatu proses dan pengalaman belajar itu sendiri. Kalau proses belajar tidak memberi pengalaman bahwa belajar merupakan suatu kegiatan individual maka perilaku mandiri dalam belajar akan tetap merupakan impian. Masalahnya adalah kapan pengalaman kemandirian harus ditanamkan kepada peserta didik atau mahasiswa. Kapan mahasiswa harus mempunyai kesan yang benar bahwa belajar di perguruan tinggi sangat berbeda dengan belajar di sekolah menengah atau lembaga kursus.

Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Hal ini dimungkinkan kalau terdapat buku pegangan yang memadai yang dapat dijadikan pegangan bersama antara dosen dan mahasiswa. Sekali lagi, perilaku mandiri akan terbentuk kalau kelas tidak diisi dengan hal-hal yang sebenarnya mahasiswa mampu untuk melakukan sendiri dengan petunjuk seperlunya dari dosen. Di samping itu, mahasiswa harus punya keyakinan bahwa dosen bukan sumber pengetahuan utama. Sumber pengetahuan utama tersedia di perpustakaan dan di media cetak atau audiovisual lainnya. Kemandirian merupakan sikap yang terbentuk akibat rancangan proses belajar yang cermat. Sikap/perilaku mandiri merupakan sikap yang sengaja dibentuk dan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Agar kemandirian dapat terbentuk, tugas dosen adalah mengarahkan, memotivasi, memperlancar dan mengevaluasi proses belajar mandiri mahasiswa sehingga temu kelas akan diisi dengan hal-hal yang bersifat konseptual dan temu kelas akan merupakan ajang konfirmasi pemahaman mahasiswa terhadap materi dan tugas yang harus dikerjakan di luar jam temu kelas. Di lain pihak, mahasiswa dituntut untuk mengerjakan sendiri hal-hal yang sebenarnya mereka mampu untuk mengerjakan dengan petunjuk seperlunya dari dosen/instruktur. Dengan demikian, dosen akan banyak dapat menyampaikan kearifan (wisdom) daripada sekedar masalah teknis sehingga temu kelas akan mempunyai nilai tambah yang tinggi.



Konsep Memiliki Buku

Buku merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari belajar. Buku merupakan sumber pengetahuan. Hal yang sering kurang disadari mahasiswa adalah bahwa memiliki buku lain sekali artinya dengan memiliki kertas bergambar huruf. Lebih menarik lagi adalah bahwa memiliki buku belum merupakan suatu sikap atau budaya kita. Kurangnya minat untuk memiliki buku mungkin timbul karena anggapan bahwa dosen dan kuliah merupakan sumber pengetahuan utama. Mungkin juga masih dianggap hal yang kurang etis di Indonesia untuk memaksa mahasiswa membawa buku dalam kuliah dan digunakan bersama di kelas (mungkin karena kemampuan ekonomik yang tidak sama untuk membeli).

Pertanyaan yang menjadi sindrom dosen bila menggunakan buku di kelas adalah: "Kalau mahasiswa sudah memegang buku yang baik dan jelas dalam menguraikan masalah (apalagi berbahasa Indonesia), lalu apa yang harus saya ajarkan di kelas?" Untuk memecahkan sindrom ini acap kali mahasiswa ditempatkan pada disadvantaged position dengan digunakannya buku bahasa asing sebagai pegangan utama walaupun terdapat buku berbahasa Indonesia yang sebenarnya cukup memadai (tentu saja buku tersebut tidak sempurna). Alasannya adalah mahasiswa harus menguasai materi sekaligus mampu berbahasa Inggris (membaca buku teks asing). Akibatnya, karena kenyataan kemampuan rata-rata mahasiswa untuk memahami buku berbahasa asing (Inggris), banyak mahasiswa yang dengan segala upaya mencari terjemahan atau berusaha mencari penerjemah secara bersama-sama dan membawa buku bahasa Inggris di kelas untuk formalitas saja.

Pendekatan semacam ini dapat bersifat disfungsional, mahasiswa menjadi terhambat dalam menguasai materi sementara itu mahasiswa juga tidak menjadi mampu berbahasa Inggris. Mungkin pendekatan yang terbaik adalah menggunakan buku berbahasa Indonesia sebagai pegangan utama dan buku berbahasa Inggris sebagai buku pendukung dan keduanya dipaksakan untuk dimiliki mahasiswa. Tentu saja pemilihan buku yang dianggap memadai merupakan keputusan strategik (dan dalam hal tertentu juga politis) penyelenggara atau pengelola pendidikan.

Buku adalah sumber pengetahuan yang harus dibaca, ditulisi, dicorat-coret, ditempeli artikel dan "diajak berdialog" sehingga buku tersebut akan menjadi bagian dari pribadi seseorang. Kalau buku yang dibeli tetap bersih dan tidak pernah diajak dialog maka seseorang sebenarnya hanya memiliki kertas bergambar garis dan huruf dan seandainya buku tersebut hilang maka tidak ada rasa kehilangan apapun karena buku yang sama dapat segera dibeli di toko buku. Lain halnya kalau buku tersebut telah dibaca dan dipahami serta diberi tanda-tanda khusus pada bagian-bagian yang dianggap penting dan menarik, maka apabila buku tersebut hilang maka seseorang akan merasa seperti kehilangan seorang kekasih. Sementara itu, ada juga yang membeli buku kemudian memberinya sampul dan membuka dan membacanya secara hati-hati agar buku tersebut tidak rusak dengan harapan setelah selesai digunakan untuk menempuh suatu kuliah buku tersebut sengaja akan dijual kembali (seperti di AS).



Kemampuan Berbahasa

Kemampuan berbahasa dan menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi buah pikiran bukan merupakan sesuatu yang gifted tetapi merupakan keterampilan yang harus dipelajari dengan penuh kesadaran. Sayangnya banyak mahasiswa yang merasa dapat berbahasa (bahasa Indonesia khususnya) bukan karena mempelajarinya secara sadar akan tetapi memperolehnya secara alamiah. Bila seseorang ingin mencapai dan menikmati pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan ilmiah, maka bahasa yang dikuasai secara alamiah harus ditingkatkan (improved and refined) menjadi bahasa ilmiah.

Untuk percakapan dan penulisan sehari-hari dalam pergaulan umum, bahasa yang diperoleh secara alamiah memang cukup akan tetapi tingkat kecanggihan bahasa tersebut sebenarnya ada pada tingkat yang paling bawah. Ciri umum bahasa tersebut adalah struktur bahasa yang sederhana (sering tidak lengkap dan mengandung salah kaprah) dan kosa kata yang sangat terbatas. Keefektifan komunikasi lebih banyak diwarnai oleh ungkapan-ungkapan yang situasional (colloquial) dan emosional disertai dengan isyarat (gestures). Bahasa tersebut cukup untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat konkret atau peristiwa nyata dalam kehidupan umum sehari-hari.

Akan tetapi, bahasa awam atau alamiah tidak mampu atau kurang memadai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah dan abstrak atau konseptual yang acapkali sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata atau fisik. Untuk mengungkapkan hal ini diperlukan struktur bahasa dan kosa kata yang lebih canggih. Ciri-ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terekspresi dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya.

Pada waktu belajar di luar negeri, penulis bertemu dengan mahasiswa Amerika (teman baik penulis) yang pada waktu itu membawa kamus The American Heritage Dictionary yang cukup tebal. Penulis menanyakan kepadanya mengapa dia masih membawa kamus segala toh dia sudah bisa berbahasa Inggris. Dengan nada yang cukup tinggi (mungkin dia berpikir bahwa penulis menanyakan stupid question dan ingin memberi pelajaran kepada penulis) dia menjawab yang kira-kira artinya demikian: "Apa kamu kira saya ini tahu semua kata bahasa Inggris?" Pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman ini adalah bahwa seseorang (khususnya dosen dan mahasiswa) harus belajar bahasa sendiri (Indonesia) lebih dari apa yang diperolehnya secara alamiah. Karena sudah merasa mampu berbahasa Indonesia, kebanyakan orang tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia dan mempunyai atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing.

Anehnya, kalau seseorang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, dia dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau dia mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan "Apa artinya ini, kok aneh-aneh?" dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat. Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa seseorang sudah merasa cukup dan puas dengan bahasa awam atau alamiahnya.

Mahasiswa sering mengeluh bahwa mereka sukar memahami suatu buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Ada berbagai alasan yang dapat menerangkan hal tersebut. Pertama, buku yang dibacanya membahas masalah konkret dan sederhana tetapi ditulis dengan bahasa yang kurang memadai sehingga sulit dipahami apalagi kalau pembaca hanya menggunakan struktur bahasa alamiahnya sehingga pembaca tidak tahu bahwa struktur bahasa dalam buku tersebut keliru dan menjadi tidak mudah dipahami maksudnya. Kedua, buku tersebut memang ingin mengungkapkan sesuatu yang kompleks dan konseptual yang memerlukan struktur bahasa yang canggih dan ditulis dalam bahasa yang sangat memadai dan baku tetapi mahasiswa menggunakan struktur bahasa alamiahnya untuk memahami. Sayangnya banyak orang yang menuduh bahwa suatu buku sulit dipahami padahal sebenarnya orang tidak mempunyai kemampuan bahasa yang memadai untuk memahami. Ketiga, mahasiswa membaca buku yang memerlukan pemikiran mendalam tetapi membacanya seperti membaca berita di koran sehingga pemahaman tidak diperoleh.

Oleh karena itu, kalau mahasiswa ingin menikmati dunia pengetahuan yang luas dan tinggi, mahasiswa harus memperbaiki kemampuan bahasanya. Mahasiswa harus mempunyai kemampuan berbahasa pada tingkat yang memadai untuk mampu menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual. Kalau hanya keterampilan teknis yang menjadi tujuan, bahasa alamiah memang sudah cukup. Apakah mahasiswa perlu mampu berbahasa asing (Inggris)? Kalau mahasiswa ingin lebih melebarkan cakrawala pengetahuannya bahasa asing jelas merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Masih langkanya bukubuku keilmuan berbahasa Indonesia dewasa ini mengharuskan mahasiswa menguasai bahasa asing (khususnya bahasa Inggris). Mata kuliah dan pengetahuan lain di perguruan tinggi (yang bukan mata kuliah bahasa Inggris tetapi menggunakan buku teks asing), walaupun membantu, bukan merupakan sarana untuk belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris harus dipelajari secara khusus dan serius melalui pelajaran dan pelatihan secara khusus.

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang dapat menguasai bahasa asing (termasuk membaca buku teks) dengan baik kalau dia juga menguasai bahasa sendiri (Indonesia) dengan baik pula. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa Inggris yang mempunyai struktur yang baku dan canggih kalau dia sendiri tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku (dan sebenarnya juga canggih) sebagai pembandingnya? Banyak orang mengeluh dan merasa sulit belajar bahasa Inggris tetapi mereka lupa bahwa kesulitan tersebut sebenarnya disebabkan struktur bahasa Indonesianya sendiri masih belum memadai.



Rangkuman

Belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan strategik dalam mencapai tujuan individual seseorang. Semangat, cara belajar, dan sikap mahasiswa terhadap belajar sangat dipengaruhi oleh kesadaran akan adanya tujuan individual dan tujuan lembaga pendidikan yang jelas. Keselarasan tujuan akan menjadikan belajar di perguruan tinggi merupakan kegiatan yang menyenangkan tanpa meninggalkan scientific vigor perguruan tinggi.

Dosen dan kuliah bukan merupakan sumber pengetahuan utama dan oleh karena itu perlu diredefinisi pengertian kuliah sejak dini. Kuliah merupakan ajang untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa dalam proses belajar mandiri. Untuk mendukung proses belajar-mengajar yang efektif seperti itu, dosen dan mahasiswa harus mengacu dan memegang buku yang sama.

Pengendalian proses belajar lebih penting daripada hasil atau nilai ujian. Kalau proses belajar dijalankan dengan baik, nilai merupakan konsekuensi logis dari proses tersebut. Kalau proses belajar tidak dikendalikan dengan baik, nilai tidak mencerminkan adanya perubahan perilaku walaupun nilai tersebut menambah atribut seseorang.

Memiliki buku tidak sama dengan memiliki kertas bergambar huruf dan garis. Buku hendaknya diperlakukan sebagai teman atau kekasih sejati; buku harus diajak berdialog.

Kemampuan berbahasa merupakan dasar yang sangat penting untuk dapat memahami pengetahuan yang kompleks dan konseptual. Karya ilmiah dan tinggi tidak dapat begitu saja dipahami dengan hanya menggunakan bahasa alamiah. Penguasaan bahasa yang memadai (baik struktur maupun kosakata) juga sangat membantu seseorang untuk mampu mengekspresi gagasan dan perasaan atau mendeskripsi masalah secara cermat dan efektif.

Banyak jalan menuju sukses pribadi. Perguruan tinggi paling tidak memberi jalan menuju sukses pribadi sekaligus sukses bagi masyarakat. Perilaku mahasiswa di perguruan tinggi akan mewarnai berbagai sukses pribadi seseorang dan juga sukses masyarakat dan negara. Selamat mengevaluasi diri dan belajar dengan perilaku dan pandangan yang semestinya!



Daftar Bacaan

Anton M. Moeliono. Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: PT Gramedia, 1989.

Davis, Ivor K. The Management of Learning. London: McGraw-Hill Book Company, 1971.

Gartside, L. English for Business Studies, 3rd ed. Jakarta: Binarupa Aksara, 1989.

Hall, William C. dan Robert Cannon. University Teaching. Adelaide: ACUE, The University of Adelaide, 1975.

International Extension College. Writing for Distance Education. Cambridge, England: IEC, 1979.

Mulyani A. Nurhadi. Proses Belajar-Mengajar. Makalah disampaikan pada "Seminar Modus BelajarMengajar," Fakultas Ekonomi UII di Kaliurang tanggal 10-11 Oktober 1982.

Neusner, Jacob. How to Grade Your Professors and Other Unexpected Advice. Boston: Beacon Press, 1984.

Sterling, Robert S. "Accounting Research, Education and Practices," dalam Schroeder, Richard G. et al. Accounting Theory: Text and Reading. New York: John Wiley and Sons, 1987.

# # #

Sumber: http://suwardjono.com/upload/perilaku-belajar-di-perguruan-tinggi.pdf

Tips Sukses Belajar Bahasa Inggris

Kiat Sukses Belajar Bahasa Inggris
Bukan hal baru lagi bahwa menguasai bahasa Inggris merupakan suatu keharusan. Fakta membuktikan bahwa menguasai bahasa Inggris itu sangat penting dalam melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan pekerjaan, mengikuti perkembangan sains dan teknologi, dan untuk berkomunikasi di era global.

Agar dapat mengikuti kuliah di perguruan tinggi dengan baik, seseorang dituntut untuk menguasai bahasa Inggris pasif maupun aktif. Sebagai mahasiswa baru misalnya, ia dituntut untuk memiliki nilai TOEFL minimal 400. Dalam perkuliahan, mahasiswa juga diharuskan untuk dapat membaca buku-buku literatur dalam bahasa Inggris maupun mengakses informasi lewat internet yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Inggris.

Untuk memperoleh pekerjaan dengan mudah, seseorang perlu memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang memadai. Sebelum diterima menjadi pegawai atau karyawan, seorang pencari kerja pada umumnya menjalani serangkaian tes tertulis dan wawancara yang sering dilakukan dalam bahasa Inggris. Seorang pegawai atau karyawan akan banyak memperoleh keuntungan bila yang bersangkutan menguasai bahasa Inggris seperti mendapatkan kesempatan mengikuti studi lanjut dan promosi atau kenaikan jabatan.

Ada sebuah cerita yang mungkin dapat membuka cakrawala pikir kita akan pentingnya menguasai bahasa Inggris. Ada seorang lulusan SMA yang terpaksa menjadi tukang becak untuk menopang ekonomi keluarganya. Sejak SMP, nilai bahasa Inggris yang bersangkutan selalu tinggi. Sebenarnya ia bercita-cita untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Namun, karena kemampuan ekonomi keluarganya yang tidak mendukung, ia dengan terpaksa memendam cita-citanya tersebut. Suatu hari ketika ia sedang mengayuh becaknya, seorang turis perempuan mendekatinya dan minta diantarkan ke suatu tempat. Purnomo yang bisa berbahasa Inggris mempersilakan turis dari Inggris tersebut untuk naik ke becaknya dan mengantarkannya ke tujuan.

Di sepanjang perjalanan, mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Si turis inggris itu terkesima karena baru kali ini ia bisa bercakap-cakap dengan penarik becak. Memang kadang ada satu dua penarik becak yahg bisa berbahasa Inggris, namun itu hanya sebatas menawarkan harga, menanyakan tujuan penumpang, dan berterima kasih. Lain sekali dengan yang satu ini yang bisa menanyakan dari negara mana si turis berasal, kapan tiba di Indonesia, dan tempat-tempat apa saja yang telah turis tersebut kunjungi selama di Indonesia. Ia juga menceriterakan bagaimana ia dapat berbahasa Inggris dengan cukup fasih. Ia menjelaskan bahwa ia suka bahasa Inggris sejak SMP dan ingin sekali melanjutkan belajar bahasa Inggris di perguruan tinggi, namun kemampuan ekonomi orangtuanya tidak mendukung sehingga ia terpaksa menjadi penarik becak untuk mendapatkan uang yang akan ditabungnya untuk melanjutkan kuliah. Sesekali turis wanita itu menengok ke belakang dan memandang kedua kaki penarik becak yang kokoh.

Saat itulah ia merasakan perasaan aneh dalam hatinya. Ya, turis itu jatuh cinta pada penarik becak itu, sosok pria sejati di matanya. Memang ia hanya berprofesi sebagai penarik becak, namun ia mempunyai pengetahuan dan cita-cita, selain mempunyai postur tubuh yang kokoh.
Turis itu berpikir bahwa sosok pria seperti itulah yang dapat melindunginya dalam hidupnya. Maka turis itu kemudian menyatakan cintanya pada tukang becak itu di tempat wisata yang ia kunjungi dan menyatakan keinginannya untuk menikah dengannya. Tukang becak itu menyetujuinya. Mereka akhirnya menikah. Setelah menjadi suaminya, turis itu meminta suaminya (si tukang becak itu) untuk melanjutkan studinya di Inggris. Sepulang dari studinya di Inggris, mereka membuka perusahaan di dengan dia (bekas tukang becak itu) sebagai menejer tentunya.

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa bahasa Inggris dapat menjadikan seseorang sangat beruntung. Bahasa Inggris merupakan pembuka atau kunci bagi kehidupan yang lebih baik. Banyak cara yang dapat ditempuh seseorang untuk dapat menguasai bahasa Inggris, misalnya dengan mengikuti kursus bahasa Inggris, belajar mandiri dari buku, kaset dan CD bahasa Inggris atau chatting dengan English Native speaker atau kenalan lainnya lewat internet. Namun, semua itu memerlukan dana yang kadang tidak sedikit, alasan yang sering menghalangi seseorang untuk dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Lalu bagaimanakah kita bisa belajar bahasa Inggris dengan murah dalam berbagai keterbatasan sarana tetapi dengan hasil yang baik?

Belajar bahasa Inggris tidak cukup sekedar mempelajari unsur kebahasaannya saja seperti mempelajari kosa kata dan struktur bahasanya, tetapi juga harus belajar menggunakannya untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari karena tujuan dasar belajar bahasa Inggris adalah dapat berkomunikasi dengan benar dan lancar dalam bahasa Inggris. Mengetahui kosa kata dan/atau tata bahasanya saja tanpa berlatih menggunakan kosa kata dan tata bahasa tersebut untuk berkomunikasi secara lisan maupun tertulis tidak cukup. Lalu apa saja yang harus kita lakukan agar dapat menguasai bahasa Inggris baik dari segi kebahasaan maupun praktiknya?

Berikut ini ada sejumlah tip yang bisa diterapkan dalam belajar bahasa Inggris dalam kondisi yang terbatas untuk mengembangkan pengetahuan kebahasaan (kosa kata dan tata bahasa) dan keterampilan dalam berkomunikasi.

Belajar unsur kebahasaan
Yang dimaksud dengan belajar unsur kebahasaan adalah belajar menguasai kosa kata dan struktur bahasa Inggris. Untuk menguasai unsur kebahasaan bahasa Inggris, ada beberapa tip yang bisa Anda lakukan.

Membuat daftar kosa kata
Anda dapat membuat kosa kata pada buku kecil. Anda dapat menuliskan 10kosa kata baru yang Anda temukan setiap harinya di buku kecil tersebuttanpa melupakan kosa kata yang telah dipelajari sebelumnya tentunya.Selain menuliskan arti kata, Anda juga bisa mencantumkanpronunciation-nya atau bagaimana kata-kata-kata itu diucapkan. Karenamungil, buku daftar kosa kata ini dapat dibawa ke mana saja dan dapatdibaca setiap saat seperti ketika menunggu bis atau jemputan, di dalamkendaraan, di saat santai, dan lain sebagainya.

Membuat kartu struktur
Anda bisa menggunakan kertas manila dan membuatnya menjadi kartu-kartu kecil. Setelah itu Anda bisa menuliskan rumus-rumus bahasa Inggrisseperti tenses dengan contoh kalimatnya. Kertas-kertas tersebut bisadisimpan dalam dompet kecil atau kotak kecil. Kartu struktur ini jugamudah dibawa dan dibaca di mana saja serta kapan saja.

Membaca majalah, koran, dan cerita-cerita berbahasa Inggris
Buku, koran maupun majalah berbahasa Inggris merupakan sumber belajarbahasa Inggris. Dengan membaca artikel atau cerita dari buku cerita, majalah, maupun koran berbahasa Inggris, Anda bisa meningkatkan kemampuan membaca sekaligus memperkaya pengetahuan akan bahasa Inggris Anda. Namun demikian, bacaan-bacaan bahasa Inggris yang dibaca hendaknya teks-teks dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan tingkat kemampuan bahasa Inggris Anda. Teks yang terlalu mudah cenderung tidak meningkatkan kemampuan bahasa Inggris Anda, sementara bacaan yang terlalu sulit dapat menjadikan Anda frustasi. Dengan demikian, Anda perlu mendapatkan teks yang tidak terlalu mudah tetapi tida terlalu sulit. Teks yang demikian dapat Anda pahami dengan relatif mudah dan meningkatkan kemahiran bahasa Inggris Anda karena teks tersebut mengandung kosa kata, struktur, dan ekspresi-ekspresi yang belum Anda kenal sebelumnya.

Belajar berkomunikasi
Selain belajar pengetahuan kebahasaan, untuk dapat sukses belajar bahasa Inggris, Anda harus sesering mungkin mempraktikkan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari baik secara lisan maupuntertulis. Ada sejumlah tip yang bisa dicoba untuk melatih kemampuanberkomunikasi Anda dalam bahasa Inggris.

Mendengarkan/menyaksikan acara berbahasa Inggris di radio/TV

Sekarang banyak radio dan stasiun TV yang menyelenggarakan acara-acara interaktif dalam bahasa Inggris. Anda bisa bergabung dalam acara itu dengan mendengarkan atau menelepon dan berbicara dengan penyiar dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan mendengar dan berbicara Anda.

Membuat speaking club

Anda bisa mengajak teman-teman untuk membentuk English Speaking Club. Yang dibahas dalam kegiatan ini bisa berasal dari topik-topik yang sedang in atau masalah-masalah yang dihadapi di sekolah, rumah, dll. Jika dilakukan di sekolah, Anda bisa meminta bantuan guru bahasa Inggris Anda untuk menjadi pembimbing dan sekaligus sebagai pemonitor bahasa Anda.

Membuat majalah dinding bahasa Inggris

Untuk dapat melatih kemampuan menulis, Anda bisa menulis artikel yang nantinya dipajang pada majalah dinding. Tentu saja Anda bisa menuangkan pikiran Anda dalam bentuk artikel, tip, puisi, cerita, humor, dll. Selain kemampuan menulis Anda terasah dan bakat Anda terlatih, nama penulis kan terpampang di mading.

Menulis buku harian dalam bahasa Inggris

Tidak semua orang diciptakan sebagai orang yang extrovert alias orang yang gaul dan bisa cas cis cus dengan mudah sama orang lain. Ada juga tipe orang introvert yang cenderung pendiam namun bukan berarti ia tidak punya kemampuan. Nah, bagi Anda si tipe introvert alias pendiam, Anda bisa juga menuangkan pikiran, ide, gagasan, curahan hati (bagi yang patah hati kali ya!), dan uneg-uneg Anda yang lain (misalkan habis dapat nilai jelek, nggak bisa mengerjakan soal di papan tulis, dll) atau kebahagiaan Anda (seperti ketika fallin’ in love with someone) dalam buku harian, dengan bahasa Inggris tentunya. Selain tidak malu dibaca dan ditertawakan teman, kemampuan menulis bahasa Inggris Anda pun meningkat.
Mendengarkan musik berbahasa Inggris di radio dan TV

Bagi Anda yang music mania, don’t worry, be happy. Musik pun bisa menjadi salah satu sarana yang OK buat belajar bahasa Inggris. Selain dapat menikmati syair dan lirik lagu favoritmu, Anda juga bisa melatih kemampuan mendengarkan, melafalkan bahasa Inggris Anda sekaligus memperluas kosa kata bahasa Inggris Anda.

Selain tip tersebut di atas, ada dua hal yang perlu diperhatikan agar Anda bisa berkomunikasi dengan lancar. Pertama, jangan takut membuat kesalahan ketika belajar maupun berbicara. Membuat kesalahan dalam proses belajar bahasa adalah suatu hal yang wajar dan hal itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar. Ke dua, jangan menjadikan keterbatasan kosa kata sebagai kendala yang menghalangi Anda untuk berbicara. Anda masih bisa menggunakan isyarat/gerak untuk memperjelas maksud Anda jika Anda mengalami kesulitan dalam menemukan kata-kata untuk mengutarakan maksud Anda.

Bagaimana? Ternyata tidak terlalu sulit kan untuk bisa belajar bahasa Inggris dalam keterbatasan sarana? Kuncinya adalah niat dan kemauan. Pepatah mengatakan “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan atau istilah kerennya “When there is a will, there is a way”. Jadi, kenapa tidak mulai dari sekarang saja Anda belajar bahasa Inggris? Masih ingat kan password untuk sukses belajar bahasa inggris. Ya, niat dan kemauan. Kalau ada keduanya semuanya akan menjadi lebih mudah. “Banyak jalan menuju Roma” dan tentunya “banyak cara buat sukses belajar bahasa Inggris”.

Sumber: http://mademunarda.blogspot.com/2008/08/kiat-sukses-belajar-bahasa-inggris.html

Kursus Belajar Bahasa Inggris

Kursus Bahasa Inggris: Belajar Bahasa Inggris ...

Indonesia


Lessons For Life – Kursus Bahasa Inggris - untuk Pengguna Indonesia terdiri atas 3 tingkatan:


1) Bahasa Inggris: Tingkat Pemula
2) Bahasa Inggris: Tingkat Menengah
3) Bahasa Inggris: Tingkat Mahir



Total: 3 CD-ROM



JAMINAN KEPUASAN 100%
Jaminan 30-Hari Uang Kembali

GRATIS BIAYA PENGIRIMAN KE INDONESIA

Kode Produk: LFL_English_Course_indo

MANFAAT:

* Jaminan Kepuasan 100%
Semua produk dijamin 30 Hari Uang Kembali.


* Kebijakan Pengembalian 30 Hari
Anda bisa mengembalikan produk apa pun dalam
jangka waktu 30 hari sejak tanggal pembelian.

* Menyenangkan dan Mudah Digunakan

Belajarlah bahasa Inggris secara efektif sambil bersenang-senang.
Antarmuka ramah pengguna dengan navigasi sederhana, intuitif, dan jelas.

*Atur Sendiri Kecepatannya
Belajarlah secara nyaman dan menyenangkan dengan kecepatan
yang atur sendiri dari rumah/kantor/sekolah.


* Pembelajaran Efektif
Rancangan pengajaran dan interaktif yang inovatif yang dirintis oleh
Lessons For Life membuat Anda terlibat dengan tingkat yang optimal
untuk membantu pembelajaran bahasa secara efektif.

* Bantuan dalam bahasa Indonesia
Ditawarkan bantuan arahan dalam bahasa Indonesia untuk membuat
pembelajaran semudah mungkin. Semua CD-ROM mempunyai terjemahan
bahasa Indonesia yang menyatu dalam software, yang dapat
diaktifkan/dinonaktifkan sebagai fitur pilihan.


SELAYANG PANDANG:
Lessons for Life – Bahasa Inggris merupakan sebuah program
pembelajaran bahasa multimedia dengan keterlibatan penuh yang
menampung semua gaya pembelajaran individu. Antarmukana yang
ramah pengguna dan navigasi yang sederhana, intuitif, dan jelas
menjadikan Lessons for Life – Bahasa Inggris sebagai sebuah
pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat.


Lessons For Life – Kursus Bahasa Inggris terdiri atas:
- 3 Tingkat: Pemula, Menengah & Mahir
- 30 unit
- 250 kegiatan interaktif plus, latihan dan ujian tata bahasa
- 300 percakapan praktis


Perpaduan sempurna antara teknologi dan pembelajaran.



Intisari:

•Benar-benar komprehensif: mencakup semua keterampilan penting
•Isi berbasis kurikulum yang diakui secara internasional

•Aksen Standar Bahasa Inggris Amerika (American English)
•Gaya pembelajaran individu dipertimbangkan
•Antarmuka ramah pengguna dengan navigasi sederhana,
intuitif, dan jelas dalam bahasa Inggris

•3 Tingkat Pemula, Menengah & Mahir
•3 modul, masing-masing terdiri atas 100 percakapan, lebih dari 70 kegiatan dan 20 ujian
•4 keterampilan bahasa: membaca, menulis, berbicara dan menyimak

•Kegiatan Interaktif
•Klip audio dengan bantuan teks tertulis

•Pelajaran berbasis topik
•Percakapan praktis sehari-hari
•Tokoh-tokoh animasi dalam situasi nyata
•Bisa menyaksikan, menyimak dan menghentikan percakapan maupun
suara kapan pun
•Latihan pelafalan, pembentukan dan penggunaan semua pokok-pokok tata bahasa
•Bantuan rujukan tata bahasa

•Halaman aturan dan petunjuk yang menjelaskan tentang cara kerja tata bahasa
•Permainan Interaktif untuk membantu Anda meningkatkan memori, tata bahasa
dan keterampilan mengeja




TOPIK-TOPIK MELIPUTI:

•Abjad bahasa Inggris
•Angka
•Nama hari dalam seminggu dan nama bulan dalam setahun
•Cuaca dan waktu
•Sapaan
•Anggota Badan
•Hubungan Keluarga
•Perkenalan
•Olahraga
•Permintaan
•Telepon
•Lamaran Kerja
•Seni
•Pemasaran
•Bingkisan
•Berbicara di depan umum
•Kerja
Dan banyak lagi….

Program ini menggunakan berbagai tema untuk mengembangkan
keterwacanaan dan keterampilan bahasa Inggris yang meliputi membaca,
mengejar, menulis, dikte, menyimak, dan tata bahasa.


Dikembangkan oleh:
Sebuah tim ahli pengajar bahasa Inggris dari berbagai perguruan tinggi dan
sekolah bahasa ternama di Australia dengan pengalaman mengejar internasional



Dirancang untuk:

- Para Siswa ESL (Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua)
- Dunia usaha ESL

- Kelas bahasa Inggris standar atau perbaikan
- Tugas perbaikan bagi para pembelajar yang membutuhkan
- Kegiatan pengembangan bagi para siswa yang mampu




Lessons For Life – Bahasa Inggris bisa digunakan:
- Oleh diri sendiri
- Sebagai bagian dari pelajaran

- Atau untuk melengkapi segala tingkat belajar bahasa Inggris



Persyaratan Sistem:
Windows Operating System: Intel Pentium/Celeron/AMD
233Hz atau lebih cepat, Windows Vista, XP, ME, 2000, 98, NT4,
16 MB RAM; resolusi 1024x768; 2xDVD-ROM drive;
sound card kompatibel 16-bit Windows ; space hardisk 100MB

Produk
Bahasa Inggris: Edisi Lengkap
Kursus Bahasa Inggris
Tata Bahasa Inggris Praktis - Bagian
Percakapan Bahasa Inggris Praktis
Tingkat Pemula
Tingkat Menengah
Tingkat Mahir
Tata Bahasa Inggris Praktis – Bagian 1
Tata Bahasa Inggris Praktis – Bagian 2
Permainan Interaktif Bahasa Inggris

Surabaya Toastmaster Meeting

Please come to Toastmaster Meeting to improve our English
particularly in communication and public speaking skills.

We'll have the meeting with the schedule below :
Day/Date : Saturday / 16 August 2008
Venue : International European University (IEU) Campus,
Jl. Raya Dukuh Kupang 128 B, Surabaya (behind Shanggrilla Hotel)
Time : 16.15 WIB

This meeting is free and open to public.

TM Club Mission :
To provide a mutually supportive and learning environment in which
every one can develop communication and leadership skills, which in
turn foster self confidence and personal growth

What is Toastmasters?
From a humble beginning in 1924 at the YMCA in Santa Ana, California,
Toastmasters International has grown to become a world leader in
helping people become more competent and comfortable in front of an
audience. The nonprofit organization now has nearly 226,000 members
in 11,500 clubs in 92 countries, offering a proven – and enjoyable! –
way to practice and hone communication and leadership skills.

Most Toastmasters meetings are comprised of approximately 20 people
who meet weekly for an hour or two. Participants practice and learn
skills by filling a meeting role, ranging from giving a prepared
speech or an impromptu one to serving as timer, evaluator or
grammarian.

There is no instructor; instead, each speech and meeting is critiqued
by a member in a positive manner, focusing on what was done right and
what could be improved.

So, Surabaya Milister, don't miss it this event !

Regards,
Yashinta
For further information, please contact : Yashinta 031-71953737

Cara Pindah Jurusan di ITB Bandung

Sebelumnya saya minta maaf kepada moderator apabila email saya ini agak
sedikit OOT... namun saya yakin di milis ini banyak sekali civitas atau
alumnus ITB atau bahkan dosen ITB yang bisa membantu saya. Terima kasih
sebelumnya kepada moderator atas dimuatnya email saya ini, dan terima
kasih kepada siapa pun yang bisa membantu saya.

Saya baru saja diterima di jurusan astronomi ITB. Pada awal saya
mendaftar, saya memilih jurusan ini karena untuk astronomi ada beasiswa
minat, jadi SDPA-nya bisa Rp 0,-, sedangkan jurusan lain sampai Rp 60jt.
Karena tidak terlalu yakin akan diterima, secara saya siswa daerah yg
tertinggal jauh secara kualitas pendidikan, saya tidak terlalu dalam
mempertimbangkan hal ini. Namun ternyata saya diterima, dan baru
sekarang saya memikirkan soal ini lebih jauh.
Pertama, jurusan ini bukan benar2 pilihan saya... saya lebih tertarik
pada teknik informatika atau matematika... dan kedua, setau saya
lapangan kerja untuk lulusan astronomi sangat sempit dan langka... saya
pikir akan sulit untuk mencari pekerjaan yg sesuai dengan bidang
keilmuan saya nantinya...
Kemudian jadi terpikir untuk pindah jurusan. Di tahun pertama semua
mahasiswa belum dimasukkan ke jurusan pilihan (kecuali yg memilih
jurusan dengan beasiswa minat seperti astronomi), masih dalam tahap
persiapan bersama. Berdasarkan itu mungkin saya bisa masuk ke bidang
lain saat tahap penjurusan nanti...
Yg ingin saya tanyakan, apakah saya bisa pindah jurusan? Bisa
lintas-fakultas atau tidak? Bagaimana prosedur dan syarat2nya?

JAWAB

Sorry, top posting.

Sebetulnya kalau kita hanya memikirkan berkarir di Indonesia saja, jurusan
astronomi memang boleh dikatakan tampak memiliki lapangan pekerjaan sempit
dan langka. Akan tetapi kalau kita berpikir global, seorang lulusan
Astronomi di ITB yang memiliki IPK bagus bisa melanjutkan studi ke luar
negeri dengan beasiswa tertentu untuk kemudian meniti karir di luar negeri.
Jurusan Astronomi juga memungkinkan kamu untuk menang hadiah Nobel, tidak
seperti jurusan Informatika dan Matematika.

Di ITB sekarang sudah masuk kurikulum 2008 (kurikulum baru). Mungkin juga
ada aturan pindah jurusan yang sudah berubah. Biasanya mahasiswa pindah
jurusan perlu surat berlapis, maksudnya harus ada surat rekomendasi dari
dosen pembimbing, Ketua Program Studi, dan Dekan. Untuk masalah ini,
sebaiknya bertanya lebih dahulu kepada dosen pembimbing.

Condro

Ini jawaban unofficial:
Sebenarnya bisa, dan diakomodasi.

Ini ada catatan salah seorang teman yang pernah pindah jurusan. Beliau
mencantumkan prosedurnya secara mendetail di
http://rifu.wordpress.com/2007/05/10/pedoman-pindah-jurusan/

Mudah-mudahan membantu,
--
Arie Karhendana

Kesempatannya terbuka lebar tetapi dengan syarat syarat umum dan khusus, syarat syarat umum seperti yang disebutkan Bung Ari, tapi syarat umum tidak selamanya berlaku, namun terkadang apabila syarat umum tidak terpenuhi (seperti ip TPB lebih besar atau sama dengan 3.25, dll) maka ada syarat khusus yang bermain (relasi, keluarga, orangtua dosen, dll). dan yang aneh nya lagi, syarat khusus ini tidak ada dalam AD/ART kemahasiswaan ITB, yang saya baca 4 tahun lalu, ketika saya masuk jurusan favorit (heu, favoritnya di luar negeri, bukan favorit di indonesia), syarat khusus seperti itu tidak ada. sangat menjengkelkan, tetapi itu kenyataan. sedikit bercerita, lebih dari 2 orang teman saya, yang tidak mempunyai syarat umum di atas (ip 3.25), tetapi bisa pindah jurusan dan lintas fakultas (dan memang, orangtuanya dosen, dan ada keluarga di jurusan yang dituju ) IRONIS memang. jadi hemat saya, kesempatan itu ada, lagipula, ada penjaringan di tahap Fakultas
bukan?jadi masih bisa untuk pindah jurusan.

salam hangat

Indonesia di Olimpiade Fisika Internasional

Indonesia meraih peringkat 2 dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional
press release Tim Olimpiade Fisika Indonesia
Indonesia meraih peringkat 2 dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional

Tim
Olimpiade Fisika Indonesia sukses meraih 2 medali emas, 2 medali perak
dan 1 medali perunggu dalam Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke-39
di Hanoi, Vietnam. IPhO yang diselenggarakan dari pada tanggal 20-29
juli ini diikuti oleh 82 negara dengan jumlah peserta mencapai 376
peserta. Siswa-siswa Indonesia yang meraih medali adalah sebagai
berikut:

1. Kevin Winata (SMAK BPK Penabur 1 Jakarta) - medali emas dengan skor 40,73
2. Rudy Handoko Tanin (SMA Sutomo 1 Medan) - medali emas dengan skor 33,30
3. Thomas Aquinas Nugraha Budi (SMAN 78 Jakarta) - medali perak dengan skor 27,60
4. Adam Badra Cahaya (SMAN 1 Jember) - medali perak dengan skor 27,48
5. Tyas Kokasih (SMA Taruna Nusantara Magelang) - medali perunggu dengan skor 21,20

Dengan perolehan skor 40,73, Kevin membawa Indonesia berada di
peringkat kedua setelah China. Soal teori yang diperlombakan tahun ini
sangat sulit sehingga sebagian besar siswa tidak berhasil menyelesaikan
test. Selain itu, Kevin sebenarnya nyaris meraih penghargaan the best experiment dengan skor eksperimen 19,75 dari skor maksimum 20. Sangat disayangkan
setelah sesi moderasi, salah satu siswa Taiwan berhasil meraih poin
sedikit lebih tinggi daripada Kevin.

Perolehan ini sudah
sesuai dengan target dari Prof. Yohanes Surya Ph.D, selaku pimpinan
TOFI. Dalam acara pelepasan tim oleh Prof. Suyanto, Ph.D selaku
Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas
pada tanggal 9 juli lalu, TOFI menargetkan 2 medali emas. Dengan
capaian ini, maka tim Indonesia kembali meneruskan tradisi emas di
olimpiade fisika internasional yang telah dimulai semenjak tahun 2002.

Rombongan Indonesia akan kembali ke tanah air pada tanggal 29 malam.
Tim Indonesia memberangkatkan 5 siswa didampingi 2 pimpinan tim dan 3
staf lainnya.
Pimpinan tim terdiri dari Hendra Kwee, Ph.D, dan Dr.
Kamsul Abraha, sedangkan ketiga staf lainnya adalah Muhammad Hikam,
Yudistira Virgus dan Winson Tanputraman.

Program persiapan
Tim Olimpiade Fisika Indonesia merupakan hasil kerjasama Yayasan TOFI
dengan Departemen Pendidikan Nasional, dan juga didukung oleh
Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:Srisetiowati +62 811 822 050
Lidya +62 813 1570 0855

PENDIDIKAN DI JERMAN Selalu Aktual

PENDIDIKAN DI JERMAN
Membuat Pendidikan Selalu Aktual

Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan jika berbicara mengenai
pendidikan di Jerman adalah bagaimana negeri itu bisa menyesuaikan
pendidikan dengan kemajuan teknologi yang dimiliki dunia industri. Atau,
bagaimana Pemerintah Jerman membuat pendidikannya selalu up to date?
Bagaimana mengatur hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri?

Berbagai pertanyaan itu memang pantas dikemukakan, terutama oleh kita yang
sering kali terseok-seok dalam mengembangkan dunia pendidikan serta
mencoba mengikuti perkembangan teknologi yang dimiliki dunia industri.

Kiblat pendidikan teknik

Namun, sebelum membedah rasa ingin tahu itu, perlu diketahui bahwa Jerman
merupakan negara yang memiliki latar belakang dan sejarah pendidikan yang
cukup lama. Selama ini, mungkin Jerman bukan kiblat utama untuk pendidikan
terkait masalah-masalah sosial. Namun, untuk bidang-bidang teknik, hingga
kini Jerman masih menjadi salah satu kiblatnya. Sudah berabad-abad lalu
masyarakat Jerman memiliki budaya suka bermain perkakas. Mereka suka
mengutak-utik alat.

Sikap dan kebiasaan itu didukung oleh rasa ingin tahu yang amat besar dari
kebanyakan orang Jerman. Tidak mengherankan jika sikap, kebiasaan, dan
budaya itu mendorong Jerman menjadi negara yang makin maju teknologinya.

"Yang saya ketahui, universitas di sini amat suka bersinergi antarmereka,
misalnya membuat perhimpunan perbaikan sistem pendidikan, perhimpunan
peningkatan penelitian di bidang tertentu, katakanlah elektro arus kuat,
maka dijalin kerja sama dengan MIT, Virginia, Imperial College London,
atau dengan Zurich, yang oleh banyak perusahaan dinilai sebagai
universitas-universitas elite. Di antara universitas-universitas ini
sering dilakukan tukar pikiran," kata Rinaldi Sabirin dari Jurusan Elektro
TU Darmstadt.

Kerja sama dan tukar pikiran ini juga dilakukan di antara universitas
dalam menciptakan suatu produk. Hal ini, barangkali, hampir tidak umum
dilakukan di Indonesia karena setiap universitas merasa memiliki kelebihan
dan sering sulit diajak bersinergi.

Universitas-industri

Kerja sama itu terus berlanjut, tidak hanya antaruniversitas, tetapi juga
antara universitas dan dunia industri. Biasanya, dunia industri menawarkan
semacam proyek kepada universitas. Jika universitas menyetujui, kemudian
dibuat kontrak, membuat penelitian dengan requirements dari industri, dan
hasilnya diberikan kepada industri.

"Jadi, sifat kerja sama ini tidak hanya consulting office, tetapi
benar-benar membuat produk," kata Rinaldi menambahkan.

Sebagai contoh, ada perusahaan meminta universitas untuk membuatkan sensor
listrik guna penghematan energi. Sensor itu akan bekerja dan memberikan
sinyal untuk menyalakan lampu apabila dilewati oleh orang atau benda
bergerak lainnya. Setelah tiga atau lima menit, lampu akan mati sendiri.
Jika disetujui, proyek itu akan diikat dengan kontrak antara universitas
dan perusahaan pemesan.

"Sang profesor yang mendapat tugas untuk melaksanakan segera membuat
perencanaan dan rancangan. Perencanaan dan rancangan itu lalu
di-break-down oleh asisten dosen yang biasanya terdiri dari mahasiswa S-3
yang sudah lulus Dipl-Ing. Jadi, di sini profesor bertindak sebagai
penanggung jawab, sedangkan asisten sebagai pelaksana utama," kata
Dipl-Ing Sofian Ardi Limoa, alumnus Jurusan Elektroteknik Universitas
Stuttgart.

Hasil break-down pelaksanaan proyek itu lalu ditawarkan kepada mahasiswa
tingkat akhir, dan bisa dijadikan bahan tesis sekaligus tugas akhir bagi
mahasiswa untuk meraih gelar kesarjanaan, bachelor atau dipl-ing.

"Dari sensor itu, misalnya, asisten akan membagi pekerjaan seperti sejauh
mana sensitivitas sensor yang akan dibuat, komponen apa saja yang
diperlukan, perangkat lunak seperti apa yang harus digunakan, dan
sebagainya. Jika mahasiswa sudah mengambil salah satu tugas, ia akan
bekerja baik di perpustakaan maupun di ruang praktikum, hingga benar-benar
menemukan apa yang diinginkan. Pembiayaan atas pelaksanaan tugas itu
tergantung kontrak. Bisa saja industri menanggung sepenuhnya, atau bisa
saja kontrak hanya berupa joint-project," kata Rinaldi.

Masuk kas universitas

Meski dalam proyek bersama profesor yang menandatangani kontrak dengan
dunia industri, bukan berarti uang akan masuk ke kantong pribadi profesor.
Uang itu akan masuk kas universitas. Hanya saja, profesor berhak
menggunakan uang itu untuk pembelian alat-alat baru guna pengembangan
pendidikan.

Apakah dengan cara ini selalu membuat pendidikan di Jerman terus up to
date, sejalan dengan perkembangan teknologi di dunia industri? Pertanyaan
ini perlu diajukan mengingat pengembangan kurikulum tidak secepat
pertumbuhan teknologi.

"Memang begitu. Tetapi, para profesor ini mempunyai waktu seminggu sekali
untuk bertemu, ngobrol-ngobrol soal pendidikan. Dari sana akan muncul
perlu tidaknya melakukan pengembangan kurikulum. Tetapi, yang lebih
penting, karena ini banyak terkait dengan teknologi, pengembangan
kurikulum sebenarnya ada di ruang praktikum," kata Rinaldi menambahkan.

Bisa sampai pagi

Sebagai contoh, di ruang praktikum Teknik Elektro TU Darmstadt terdapat
sejumlah mahasiswa sedang mengerjakan tugas akhir yang menjadi bagian
"pesanan" dunia industri. Tugas-tugas akhir itu antara lain mesin listrik
dengan putaran 40.000 RPM, tetapi tidak memakai lager. Sistem yang
digunakan adalah menggunakan magnet, seperti kereta magnet. Jadi, benda
yang berputar itu "diangkat" dan berputar karena gaya tarik magnet.
Penelitian ini bisa menjadi bagian utama generator atau motor, tergantung
di mana akan dioperasikan. Selain itu, karena gesekannya minimal, hal itu
diharapkan akan menambahkan keawetan.

Ada pula mahasiswa yang sedang meneliti direct pump. Selama ini umum
diketahui, mesin pompa selalu ada di luar dengan dua saluran: satu untuk
menyedot dan satu lagi untuk mendorong. Tetapi mesin yang diteliti itu
nanti akan diletakkan di tengah-tengah pipa. Dan yang istimewa, daya isap
serta daya dorongnya bisa ditingkatkan menjadi 50 meter sedot dan 50 meter
dorong. Kerja ini melibatkan sejumlah lembaga, antara lain pembuat pipa
dengan propeler, dan ada aktuatornya, serta bahan untuk kontrol dan
lainnya.

"Kalau yang ini adalah karya anak dari RRC. Dia membuat brake atau rem by
wire. Artinya tidak menggunakan kabel, tetapi memanfaatkan sensor. Proyek
ini merupakan kerja sama dengan Bosch. Jadi, saat rem diinjak, ia akan
mengeluarkan sinyal dan diterima untuk menggerakkan komponen lainnya.
Masih banyak lagi. Atau mobil listrik ini. Tetapi, kalau sudah bekerja di
laboratorium atau ruang praktikum ini, sering tidak ingat waktu. Apalagi
kalau dikejar deadline, bisa bekerja sampai pagi," kata Rinaldi Sabirin.
(TON)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/29/02561976/membuat.pendidikan.selalu.aktual

Dosen Pembimbing di Australia

Pembimbing di Curtin untuk bidang Groundwater
Salam,
Bagi Anda yang sedang mencari pembimbing di Australia untuk bidang
Groundwater, berikut adalah email dari seorang dosen Curtin University
yang membuka diri untuk menjadi pembimbing.

=====
If you know any of your students with a scholarship in hand and
searching for a supervisor in Australia , please ask them to contact
me. I have a research idea to evaluate the impacts of coastal
groundwater quality on Western Australian coastal environment.

http://www.civil.eng.curtin.edu.au/civ_priyantha.cfm

=====

Silakan membuka langsung website beliau.
Salam,
-Yonik

Seminar Lingkungan di Bogor

RMI : SEMINAR & EXPO LINGKUNGAN (GLOBAL WARMING & ENERGI ALTERNATIf
Salam Lestari,

Untuk terus menggulirkan semangat "Think Globally, Act Locally", kami, RMI (The Indonesian Institute For Forest and Environment), sebuah lembaga non-profit yang fokus pada isu pengelolaan sumberdaya
alam berkelanjutan, akan mengadakan sebuah kegiatan lingkungan yang
bertemakan Global Warming, dengan judul kegiatan "1 HARI UNTUK SELAMANYA – Dari Generasi Muda Untuk Lingkungan".Kegiatan ini diadakan bertepatan dengan Hari Pemuda Internasional yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus.

Kegiatan ini akan dibagi menjadi 2 sub kegiatan besar, yaitu:
1. Seminar Energi Alternatif dengan tema "Pemanfaatan Sampah & Limbah Biomassa sebagai Bahan
Energi Alternatif 'Menuju Bogor Mandiri Energi'"

Keynote Speaker : Roger A. Sedjo, Ph.D. (Senior Fellow dan
Direktur dari The Forest Economics and Policy

Program Resources for the Future (RFF))* Beliau adalah peraih Nobel Perdamaian dengan



Pembicara : 1. Arya Rezavidi, MEE, Ph.D. (Direktur Pusat
Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT)
2.Perwakilan Pemerintah Kabupaten/Kotamadya Bogor


Moderator : Damayanti Buchori, Ph.D. (Direktur
Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia)
2.Expo Lingkungan
Expo lingkungan dirancang untuk menyajikan informasi, simulasi dan produk dengan topik terkait
isu Perubahan Iklim dan Energi Alternatif. Pameran / Expo ini akan
diisi oleh sekolah, NGO dan perusahaan yang peduli dan melakukan
aktivitas terkait isu perubahan iklim dan energi alternatif. Selain itu
untuk lebih menghidupkan suasana pameran/expo, diadakan kegiatan bedah buku dan pentas seni yang menghadirkan teater dan pentas musik akustik.
Bila ada yang berminat mengikuti acar diatas, kami
mengharapkan ada konfirmasi sebelum tanggal 11 Agustus 2008. Terima kasih.



Regards,

Anien
Koordinator Acara
RMI-the Indonesian Institute for Forest & Environment
JL. Sempur No, 55 Bogor 16154
tel.+62-251- 311097; Fax. +62-251-320253
email: rmibogor@indo.net.id
HP : 081.77.44.332

Kiprah Nelson Tansu

Kiprah Nelson Tansu, Anak Medan yang Jadi Profesor Termuda Amerika

Bantu 10 Anak Tidak Mampu Raih Gelar Doktor

Tahun lalu Nelson Tansu kehilangan ayah-ibunya akibat perampokan di kampungnya, Medan, Sumatera Utara. Meski kecewa dengan penyidikan kasus orangtuanya, profesor termuda itu tetap setia berpaspor Indonesia.

SITI AISYAH, Denpasar

NELSON Tansu -profesor Universitas Lehigh di Amerika- menjadi salah satu bintang di forum Asian Science Camp (ASC) 2008 yang kini diadakan di Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali. Terutama bagi puluhan pemenang olimpiade sains Indonesia yang menjadi peserta acara di sana. Maklum, saat duduk di SMA di Medan dulu, Tansu adalah finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia.

Tampil rapi dengan kemeja biru muda dipadu jas hitam, Tansu lebih mengesankan sebagai pebisnis muda. Terutama ketika berada di antara para profesor, termasuk para peraih Nobel, yang menjadi pembicara di ASC yang umumnya sudah tua. Saat ditemui Jawa Pos kemarin, gurat kelelahan terlihat di wajahnya karena dia mengisi acara sejak pagi. Namun, dia tetap bersemangat untuk masuk kelas dan mengikuti sesi berikutnya.

''Wait for a second (Tunggu sebentar),'' ujarnya. Meski asli warga negara Indonesia (WNI), Tansu lebih senang menggunakan bahasa Inggris. ''Saya sekarang lebih banyak tinggal di Amerika. Tapi, masih sering mengunjungi Indonesia,'' jelas pria kelahiran 20 Oktober 1977 itu.

Tansu, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995, adalah sosok yang patut dibanggakan. Saat usianya baru 25 tahun dia diangkat menjadi profesor di Lehigh University, sebuah universitas ternama di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika.

''Persaingan mendapatkan posisi sebagai profesor di Amerika memang sangat ketat. Setiap satu lowongan, lebih dari 350 orang yang mendaftar,'' katanya.

Sukses Tansu menjadi pengajar di Lehigh University dan dinobatkan sebagai profesor termuda di Amerika itu berkat didikan orang tua. Sebab, sejak kecil sang ayah, Iskandar Tansu, memompa semangat untuk meraih prestasi tertinggi.

Berkat gemblengan keras sang ayah, Tansu sejak kecil sering memenangi berbagai lomba dan kejuaraan. "Ayah saya seorang pekerja keras. Saya juga terbiasa melakukannya sejak muda hingga menjadi profesor seperti sekarang,'' ungkapnya.

Kecuali spirit kerja keras, Tansu mengakui, sebetulnya tidak ada yang spesial dari pendidikan yang diberikan orang tuanya. Dia bermain dan belajar seperti kebanyakan anak-anak lain. "Bimbingan keluarga, orang tua, guru, dan sekolah itu penting, tapi yang lebih penting adalah usaha kita,'' jelasnya.

Menurut Tansu, dirinya sering harus tidur larut malam untuk menyelesaikan tugas. Namun, dia mengaku tidak keberatan, karena menyukai apa yang dilakukannya. ''Yang terpenting, lakukan hal yang paling kamu sukai sehingga kamu pasti berhasil di dalamnya. Tentu saja ditambah dengan usaha yang keras,'' katanya.

Sukses Tansu menjadi profesor di Lehigh University bukan kebetulan. Dunia sudah mengakui karya-karya ilmiahnya. Saat ini lebih dari 138 riset dan karya tulis yang telah dipublikasikan. Selain itu, dia menjadi pembicara aktif di berbagai seminar tentang sains dan pendidikan di seluruh dunia.

Meski berasal dari Indonesia dan masih mencintai negaranya, Tansu mengaku tidak punya rencana untuk menghabiskan masa tua di tanah air. ''Saya tidak punya rencana sejauh itu. Toh, 20 tahun lagi kita adalah citizen of the world, orang akan bebas tinggal di mana pun,'' kata laki-laki yang baru tahun lalu mempersunting Adela Gozali Yose, gadis Medan, menjadi istrinya itu.

Sayang, tahun lalu (2007) pula Tansu mengalami masa yang kelam dalam sejarah hidupnya. Rumahnya dirampok dan ayah ibunya, Iskandar Tansu dan Auw Lie Min, dibunuh. ''Saat penyelidikan, kita mengalami masalah dengan penegak hukumnya,'' ujarnya.

Modus perampokan dan pembunuhan itu memang sadis sehingga dua pelakunya divonis mati. Tansu tidak bersedia mengenang dan berbicara lebih lanjut tentang peristiwa traumatik yang menimpa dia dan dua saudaranya yang lain. Namun, pengalaman itu tidak mematikan rasa cintanya kepada Indonesia.

''Semua kenangan tetang masa kecil dan orang tua saya ada di sini. Saya tentu tidak bisa melupakan Indonesia,'' kata doktor electrical engineering University of Wisconsin di Madison, Amerika, itu.

Sebagai bukti kecintaannya kepada Indonesia, Tansu kini menggalang dana untuk menyekolahkan anak tidak mampu tapi pandai yang ingin memperoleh gelar doktor (PhD). ''Untuk mendapatkan gelar tersebut kan susah, butuh banyak biaya untuk riset dan penelitian,'' ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, di antara 10 orang yang dibantunya, dua orang dari Indonesia. Dia berharap pada tahun-tahun yang akan datang lebih banyak lagi orang Indonesianya. "Di Amerika banyak yang mau memberikan bantuan dana untuk pendidikan dan saya bisa mencarikannya dengan mudah,'' jelasnya.

Menurut Tansu, kegiatannya itu bukan semata karena peduli terhadap bangsa Indonesia, tapi juga karena kepeduliannya kepada pendidikan. "Sejak kecil saya ingin jadi pendidik di bidang sains dan engineering, sayangnya posisi ini di Indonesia kurang dihargai,'' kata pengajar S-3 itu.

Dia tak setuju guru cuma dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena guru butuh uang makan. Gaji guru dan dosen yang rendah itulah yang menjadi salah satu penyebab banyak orang pintar yang lari ke luar negeri.

''Inilah yang menjadikan mutu pendidikan kita rendah. Guru-guru dengan gaji dan fasilitas pas-pasan tentunya tidak bisa memberikan pelayanan optimal karena harus mencari tambahan sampingan,'' jelasnya.

Tansu mengharapkan pemerintah segera mengubah kebijakannya agar mutu pendidikan di Indonesia meningkat. ''Jika ada profesor yang kembali ke Indonesia ditawari jadi dosen atau anggota dewan, maka jawabannya pasti yang terakhir, it's the reality,'' jelasnya.

Selain itu, menurut pemikiran Tansu, Indonesia seharusnya mempunyai satu universitas yang bisa menjadi kebanggaan. ''Jika ada satu saja universitas di Indonesia yang setara dengan di AS, maka anak-anak kita yang pandai tidak akan lari ke luar negeri. Mereka akan memilih kuliah di negaranya sendiri,'' ujarnya.

Tansu mengenang, akibat tak adanya perguruan tinggi kebanggaan itu, ayahnya, Iskandar Tansu, mendorong semua anaknya sekolah ke Amerika. Selain dia, abangnya, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, Amerika. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Kedua saudaranya itu tinggal di Indonesia. (el)

http://www.jawapos.co.id/

Seminar ilmiah Pengembangan skill

Seminar ilmiah, diskusi publik dan workshop pengembangan skill"

SEMINAR ILMIAH

Seminar Ilmiah dengan tema " DAMPAK KELANGGKAAN ENERGI UTAMA TERHADAP
KELANGSUNGAN INDUSTRI " ini merupakan kegiatan yang menjabarkan
mengenai gambaran keadaan langkanya energi utama dalam hal ini Bahan
Bakar Minyak (BBM) , penyebab dan tindakan antisipatif sebagai solusi
untuk tetap menjaga keberlangsungan produktivitas Industri serta
mempertahankan eksistensi dalam menghadapi krisis energi dalam hal ini
khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM) dimana didalamnya terdapat
penjabaran hal – hal yang berkenaan dengan bagaimana turut
berpartisipasi dalam menghadapi krisis energi yang tengah melanda
dalam lingkup global yaitu salah satunya dengan mengembangkan ide –
ide inovatif untuk memproduksi BBM Alternatif sebagai upaya untuk
tetap bertahan hidup tanpa harus bergantung pada BBM Utama ( Minyak
tanah, Bensin, Solar, dll) yang pastinya penjabaran tersebut
disampaikan secara ilmiah oleh Nara sumber yang kompeten di Bidangnya.
Narasumber :
Pengamat Perminyakan (Bapak KURTUBI)

DISKUSI PUBLIK

Kegiatan diskusi yang bertema :
" PERAN STAKEHOLDER DALAM KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI (UMKM)
DITENGAH MULTIKRISIS "
akan membahas segala hal yang berkenaan mngenai gambaran keadaan
kehidupan industri ditengah multi krisis yang dilihat dasri berbagai
perspektif serta mencari solusi inovatif agar segala bentuk industri
mampu mempertahankan eksistensinya dalam persaingan usaha dengan peran
penting stakeholder sebagai buffer terhadap kegiatan industri.
Fluktuatif Energi Yang Berdampak Pada Inovasi Teknologi Umkm Di Indonesia.

- Direktur Kajian Inovasi Pengembangan Industri BPPT
Pembahasan mengenai inovasi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan
kelangsungan industri.

- Ditjen IKM Departemen Perindustrian
Pembahasan mengenai efisiensi pemindahan hari kerja terhadap produktivitas
industri.

- Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM Kementrian Negara Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah
Pembahasan mengenai upaya proteksi pengembangan KUKM

- Deputi Direktur Niaga dan Pelanggan Jawa-Bali PLN
Efektifitas pemadaman listrik secara bergilir terhadap industri

- Dirut Bank BRI, Bapak Sofyan Ba'asyir
Pembahasan mengenai prosedur kredit UMKM

WORKSHOP PENGEMBANGAN SKILL
Workshop pengembangan skill yang bertema
" KIAT SUKSES MENJADI PENGUSAHA INOVATIF = MAU+YAKIN+BERANI!!!".

Kegiatan ini berisikan mengenai kiat - kiat apa dan bagaimana mengasah
serta mewujudkan diri menjadi seorang Entreupreneur dengan
mengambangkan modal dasar yang harus dimilki setiap orang yang ingin
menjadi seorang pengusaha sukses yaitu Kemauan, Keyakinan dan
Keberanian untuk mewujudkannya melalui penjabaran trik dan cerita
seorang pengusaha yang telah sukses mewujudkannya.
Narasumber : Bob Sadino ( Pengusaha Kem Chick's ,dll)

TEMPAT DAN WAKTU KEGIATAN
Tempat : Ruang Rapat Komisi Utama
Gedung II BPPT Lt.3 Jakarta
Hari/ Tanggal : Kamis, 21 Agustus 2008
Waktu : Pukul 10.00 – selesai
Reservasi : Rp. 75.000

Contact Person :
Septiani : 085216181545
Rista : 08561416061

Septiani : Bank Mandiri Cabang Jakarta RS. Pelni No. 116-00-0527008-8
Rista asteria : Bank BRI Bogor No. 0012-01-079037-50-2
Dessy Puspitawati : Bank BRI Cabang RS Fatmawati No. 0330-01-022693-50-3

SMAN 3 Bandar Lampung: Juara Sinema Pelajar

Sinema: 'Beautiful' Juara Lomba Film Pelajar BANDAR LAMPUNG (Lampost): Film "Beautiful" produksi Good n Community dari SMAN 3 Bandar Lampung memenangi Lomba Film Pelajar yang digelar Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, 13--15 Desember 2007.

Dewan juri yang terdiri dari Daniel Rudi Haryanto, Hermansyah G.A., Irwan Wahyudi, Ibrahim Wardin, dan Dede Safara juga menetapkan "Senja Terakhir" dari Teater Sebelas dari SMAN 11 Bandar Lampung dan "Angin dari Barat" produksi Teater Cupido dari SMAN 1 Sumberjaya Lampung Barat sebagai juara kedua dan ketiga.
Sedangkan untuk juara harapan kesatu, kedua, dan ketiga diraih masing--masing oleh "Perjuangan Sang Generasi" dari Sanggar Prista SMA Perintis 1 Bandar Lampung, "Kejora" dari Sanggar Saraswati SMAN 1 Gadingrejo, dan "Save Mady's Soul" dari SMA YP Unila.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Hermansyah, M.U.R.P. didampingi Ketua Pelaksana A. Murad Noer dalam sambutannya sebelum menyerahkan piala dan dana pembinaan mengatakan film pelajar ini dari segi ide, penggarapan, dan imajinya sangat membanggakan. "Ini membuktikan para pelajar Lampung memiliki kemampuan yang tak kalah baik itu dari konsepsi maupun estetik dengan para praktisi film profesional."
Hermansyah mencontohkan pada "Beautiful", film ini tidak saja menyajikan konsepsi artistik melalui sudut pengambilan gambar yang tak biasa. "Tetapi di sini juga disajikan perenungan dalam menghadapi proses kematian. Pun dengan 'Senja Terakhir' yang menyajikan satu sentuhan dramatik yang memukau," katanya.
Sedangkan untuk film "Angin dari Barat", kata dia, berhasil mengolaborasikan beragam kreasi hasil kebudayaan yang patut terus dijaga dan dilestarikan. "Film-film yang meraih prestasi dalam ajang apresiasi film pelajar tahun ini memang memiliki kekuatan masing-masing. Dengan modal inilah garapannya akan muncul sineas muda Lampung yang bakal mewarnai perkembangan dunia perfilman Indonesia."
Sementara Ketua Umum Farfi Lampung Hermansyah G.A. mengemukakan bahwa perkembangan dunia film di Lampung cukup menggembirakan. Dia berharap gelaran apresiasi film pelajar yang diselenggarakan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung akan menjadi satu agenda tahunan.
"Ini merupakan langkah strategis untuk menyalurkan bakat-bakat pelajar di bidang sinematografi. Sehingga ke depan dunia perfilman Lampung akan melesat hingga tingkat nasional," ujar Hermansyah yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Tanggamus ini.
Kegiatan ini sendiri diikuti sebanyak 10 sanggar seni pelajar dari SMA se-Provinsi Lampung. Pada hari pertama penyelenggaraan, Kamis (13-12) diputar enam film peserta yakni "Senja Terakhir" karya SMAN 11 Bandar Lampung, "Kejora" dari SMAN 1 Gading Rejo, "Beautiful" dari SMAN 3 Bandar Lampung, "Anggin dari Barat" dari SMAN 1 Sumber Jaya, "Perjuangan Sang Generasi" dari SMA Perintis 1 Bandar Lampung dan "Pena Kurniasih" dari SMAN 1 Gading Rejo.
Sedangkan pada hari kedua penyelenggaraan, Jumat (14-12) akan diputar empat film yakni "Say No To Late" dari SMAN 3 Bandar Lampung, "Save Mady's Soul" dari SMA YP Unila, "Rudi Nggak Sekolah" dari SMA Al Kautsar, dan "Kabut Hitam di Atas Sekolah" dari SMA Taman Siswa Teluk Betung. Selain akan digelar pemutaran film, pada hari kedua akan dilakukan diskusi. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 17 Desember 2007

TEMU RIKSA BAHASA II 2008/2009

TEMU RIKSA BAHASA II: PELUANG DAN TANTANGAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA PADA ERA KESEJAGATAN DALAM SITUASI MULTIKULTUR

TEMU RIKSA BAHASA II

Seminar dan Lokakarya Nasional

PELUANG DAN TANTANGAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA PADA ERA KESEJAGATAN DALAM
SITUASI MULTIKULTUR

Sekretariat Panitia:
Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
Sekolah Pascasarjana (SPs)
Universitas Pendidikan Indonesia
Gd. Sekolah Pascasarjana (SPs) Lt.3 Ruang 303
Jln. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154
Tlp. 022-70767904, Fax 022-2005090
Pos-el: panitiaseminar_bi@yahoo.co.id

DASAR PEMIKIRAN
Era kesejagatan merupakan awal persiapan semua bangsa untuk menyambut
perubahan di berbagai bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya, IPTEKS, maupun bidang bahasa. Perubahan itu merupakan
sebuah tantangan yang sangat kompleks, terlebih bagi sebuah negera
berkembang seperti Indonesia. Era kesejagatan pun akan memberikan dampak
besar bagi perkembangan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai pemilik
bahasa Indonesia, kita harus siap sedia dalam menyambut riksa
(mengantisipasi) pengaruh bahasa lain bagi perkembangan bahasa Indonesia
saat ini dan masa yang akan datang.

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa resmi
nasional, mengalami beragam hambatan. Mulai dari hambatan para penuturnya
yang enggan berbahasa Indonesia dengan benar, pengaruh asing yang
menyebabkan lunturnya kebanggaan berbahasa Indonesia, hingga munculnya
berbagai program yang tanpa disadari meminggirkan posisi dan peran bahasa
Indonesia di tengah masyarakat penggunanya. Melihat kondisi demikian, bahasa
Indonesia perlu dikukuhkan sebagai bahasa yang bermartabat dan bahasa yang
mencerminkan jati diri bangsa. Salah satu solusi untuk mengembalikan bahasa
Indonesia sebagai jati diri bangsa adalah dengan melakukan riksa bahasa
Indonesia dari pengaruh luar yang menghambat perkembangannya.

Sebagai konsekuensi logis atas perkembangan zaman yang semakin cepat, bidang
pendidikan pun menuntut akreditasi agar sejajar dengan bangsa lain yang jauh
lebih maju. Dengan disahkannya Undang-Undang 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan nasional, termasuk mutu
guru bahasa Indonesia. Kondisi ini membutuhkan sebuah kesiapan baik dari
segi sumber daya guru maupun format sertifikasi yang terakreditasi. Perlu
sebuah wahana yang akan memunculkan permasalahan, ide, pemikiran, serta
solusi atas tantangan tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah
dengan menyosialisasikan ide-ide, pemikiran, dan upaya-upaya sambut riksa
peluang dan tantangan agar permasalahan yang dihadapi dapat dipahami lebih
baik untuk kemudian mencari solusi terbaik. Oleh karena itu, sesuai dengan
kapasitas dan relevansi bidang keilmuan, kami merencanakan untuk
melaksanakan Temu Riksa Bahasa II dalam bentuk seminar dan lokakarya
nasional dengan tema "Peluang dan Tantangan Pengajaran Bahasa Indonesia pada
Era Kesejagatan dalam Situasi Multikultur".

TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan:

a. menyambut riksa peluang dan tantangan serta pengaruh asing bagi
perkembangan bahasa Indonesia;

b. menyambut riksa peluang pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur
asing;

c. menyambut riksa perubahan dan perkembangan dunia pendidikan dalam
hubungannya dengan bahasa Indonesia.

NAMA DAN TEMA
Nama kegiatan ini adalah Temu Riksa Bahasa II

Tema kegiatan adalah "Peluang dan Tantangan Pengajaran Bahasa Indonesia pada
Era Kesejagatan dalam Situasi Multikultur"

BENTUK
Bentuk kegiatan adalah seminar dan lokarya nasional dengan menghadirkan
pakar-pakar bahasa di bidang BIPA dan multikultur.

PEMBICARA
1. Jerome Samuel, Ph.D. (Ketua Jurusan Bahasa Indonesia INALCO Universite
de Douphine, Paris Perancis)
Topik: Pembelajaran Bahasa Indonesia di Luar Negeri (Perancis)

2. Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa Jakarta)
Topik: Pengukuhan Jatidiri Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar
pada Dunia Pendidikan dalam Situasi Multikultur

3. Pangesti Wiedarti, Ph.D. (Dosen UNY dan Mantan Koordinator BIPA BPKLN
Depdiknas)
Topik: Strategi Pengembangan Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur
Asing

4. Prof.Dr. Yoyo Mulyana, M.Ed. (Dosen Pascasarjana UPI dan Ketua Umum
APBIPA)
Topik: Peran Asosiasi BIPA dalam Memperkuat Posisi Bahasa Indonesia
pada Masyarakat Internasional

PELAKSANA
Panitia pelaksana kegiatan adalah Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung.

Gd. Sekolah Pascasarjana (SPs) Lt.3 Ruang 303
Jln. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154
Tlp. 022-70767904, Fax 022-2005090
Pos-el: panitiaseminar_bi@yahoo.co.id

PESERTA
Peserta seminar dan lokakarya nasional adalah para guru, dosen, mahasiswa,
dan para pemerhati bahasa Indonesia.

TEMPAT DAN TANGGAL
Acara seminar dilaksanakan di Gedung JICA Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI) Bandung pada hari Sabtu, 30 Agustus 2008.

BIAYA DAN FASILITAS
Setiap peserta dikenai biaya sebesar Rp 100.000,00. Peserta mendapatkan
fasilitas seminar kit, buku, makan siang, dan kudapan.